Biasanya Tenang… Tapi Lihat Malam Ini! Ngadulag Senior Hidupkan Takbiran di Cianjur



Suasana malam takbiran di Kampung Pasir Terong, Kabupaten Cianjur, Jumat malam (20/3/2026), berubah menjadi penuh gema dan semangat. Para senior sebutan bagi laki-laki lanjut usia menjadi pusat perhatian saat menabuh beduk dalam tradisi khas Sunda yang dikenal sebagai Ngadulag . Dentuman ritmis yang menggema dari beduk bukan sekedar bunyi, melainkan simbol kehidupan budaya, kebersamaan, dan syiar Islam di tengah masyarakat.

Ngadulag: Tradisi Lama yang Tetap Hidup

Ngadulag merupakan tradisi menabuh beduk dengan pola ritmis khas Sunda yang biasanya dilakukan selama bulan Ramadhan hingga malam Idulfitri. Tradisi ini berasal dari kata “dulag” yang berarti beduk alat musik tabuh tradisional berbahan kayu dan kulit yang menghasilkan suara khas saat dipukul.

Dalam praktiknya, ngadulag tidak hanya dilakukan di masjid, tetapi juga bisa dilakukan dengan berkeliling kampung sambil menabuh beduk, menciptakan suasana meriah yang menghidupkan malam-malam Ramadhan.

Di banyak daerah Sunda, termasuk Cianjur, tradisi ini menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya keagamaan masyarakat.

Makna Religius dan Sosial di Balik Tabuhan Beduk

Secara historis, beduk memiliki fungsi penting sebagai alat komunikasi tradisional untuk menandai waktu shalat dan aktivitas keagamaan.

Namun dalam konteks ngadulag, fungsi tersebut berkembang menjadi lebih luas, yakni sebagai:

  • Media syiar Islam , mengajak masyarakat meramaikan ibadah
  • Simbol kegembiraan, menyambut datangnya Ramadhan dan Idulfitri
  • Pemersatu sosial , mempererat hubungan antarwarga

Setiap pola tabuhan bahkan memiliki makna tersendiri. Misalnya, pola tertentu digunakan untuk membangunkan sahur, sementara lainnya menjadi penanda datangnya bulan suci atau malam takbiran.

Ciri Khas Ngadulag dalam Budaya Sunda

Ngadulag memiliki keunikan tersendiri dibandingkan tradisi serupa di daerah lain. Irama yang dihasilkan sering dijelaskan dengan bunyi khas seperti “dulug-dug-dag”, yang dimainkan secara kreatif oleh para penabuh.

Tidak ada aturan baku dalam menabuhnya, sehingga setiap individu atau kelompok bisa menampilkan gaya dan ritme masing-masing.

Hal ini menjadikan ngadulag tidak hanya sebagai aktivitas keagamaan, tetapi juga sebagai bentuk ekspresi seni rakyat yang spontan dan penuh kreativitas.

Fenomena di Pasir Terong: Peran Senior yang Menginspirasi

Berbeda dengan kebanyakan daerah yang didominasi anak muda, di Kampung Pasir Terong justru para senior tampil sebagai pelaku utama tradisi ini. Dengan penuh semangat, mereka menabuh beduk tanpa kehilangan energi, bahkan mampu menciptakan suasana yang menggugah semangat warga.

Fenomena ini menunjukkan bahwa:


Warga sekitar pun terlihat antusias menikmati dentuman beduk sambil berkumpul bersama keluarga dan tetangga.

Ngadulag sebagai Identitas Budaya Lokal

Sebagai bagian dari budaya masyarakat Sunda, ngadulag merupakan warisan tradisi yang lahir dari kehidupan sosial pedesaan di Jawa Barat. Tradisi ini tumbuh dari kebiasaan masyarakat dalam memeriahkan Ramadhan dan menjaga komunikasi sosial berbasis bunyi.

Dalam konteks yang lebih luas, budaya Sunda sendiri dikenal memiliki karakter yang kuat dalam menjaga tradisi lisan, seni, dan ritual berbasis komunitas yang diwariskan secara turun-temurun.

Ngadulag menjadi salah satu contoh nyata bagaimana nilai agama dan budaya lokal berpadu harmonis dalam kehidupan masyarakat.

Tantangan di Era Modern

Di tengah perkembangan teknologi dan gaya hidup modern, tradisi seperti ngadulag menghadapi tantangan serius, antara lain:

  • Berkurangnya minat generasi muda
  • Pergeseran budaya ke arah digital
  • Minimnya ruang ekspresi budaya tradisional

Namun, keberadaan para senior di Pasir Terong yang tetap aktif melestarikan tradisi ini menjadi bukti bahwa ngadulag masih memiliki tempat di hati masyarakat.

Penutup

Tradisi ngadulag di Kampung Pasir Terong bukan sekadar aktivitas menabuh beduk, melainkan representasi nilai-nilai luhur: kebersamaan, spiritualitas, dan kecintaan terhadap budaya lokal.

Di tengah zaman yang terus berubah, dentuman beduk dari para senior itu seolah menjadi pengingat—bahwa identitas budaya tidak boleh hilang, dan warisan leluhur harus terus dijaga, diwariskan, serta dirayakan bersama.
Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak