![]() |
| Tangkapan layar diduga meteor melintas di langit Cianjur Selatan (22/1/2025) |
Dalam video yang beredar, lokasi kejadian disebut berada di sekitar Sindangbarang, dengan waktu kejadian diperkirakan sekitar pukul 20.00 WIB. Cahaya terang tampak melesat di langit malam, diikuti dentuman yang terdengar oleh sebagian warga.
Dilansir Tempo, menanggapi fenomena tersebut, pegiat astronomi dari komunitas Langit Selatan Bandung, Avivah Yamani, menyebutkan bahwa benda yang melintas kemungkinan besar merupakan fireball atau meteor dengan tingkat kecerahan sangat tinggi.
“Bisa jadi ada meteor lewat atau mungkin sampah antariksa (space junk),” kata Avivah, Sabtu 24 Januari 2026.
Namun demikian, Avivah menegaskan bahwa dalam beberapa waktu terakhir tidak terdapat peristiwa hujan meteor yang teridentifikasi.
“Tapi namanya benda asing melintas bisa saja,” ujarnya.
Sementara itu, astronom dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Hakim Luthfi Malasan, memiliki pandangan berbeda. Menurutnya, objek yang terlihat dalam video tersebut lebih tepat dikategorikan sebagai meteor jenis bolide, bukan fireball.
“Benda itu habis terkikis di lapisan atas atmosfer. Dentumannya cukup keras dan kalau toh ada sisanya jatuh di laut sehingga sulit ditelusuri,” ujarnya.
Hakim menjelaskan bahwa istilah bolide dan fireball kerap digunakan astronom untuk menggambarkan fenomena meteor yang sangat terang dan mencolok.
“Bolide adalah meteor yang sangat terang, biasanya lebih terang daripada planet Venus, dan sering meledak atau pecah di atmosfer,” katanya.
Ia menambahkan bahwa meteor bolide juga dapat menimbulkan suara dentuman atau ledakan yang terdengar hingga permukaan bumi.
Adapun fireball, menurut Hakim, merupakan istilah untuk meteor yang sangat terang dan mampu menerangi langit malam serta terlihat dari jarak yang sangat jauh.
“Fireball dapat terlihat dari jarak yang sangat jauh dan dapat menghasilkan suara dentuman atau ledakan juga. Jadi perbedaan utamanya adalah tingkat kecerahan dan intensitas ledakan,” ujar Hakim.
Di sisi lain, peneliti Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, menyatakan belum dapat mengonfirmasi kebenaran dugaan meteor yang jatuh ke laut. Hal tersebut disebabkan tidak adanya data pendukung yang cukup kuat.
Thomas mengaku telah menerima dua video yang beredar di media sosial, namun meragukan keasliannya karena sudut pengambilan gambar yang dinilai tidak konsisten. Ia berharap terdapat bukti tambahan yang lebih kuat.
Ia menyatakan mendapat dua video yang dimaksud namun meragukan keduanya mirip satu sama lain karena ketampakannya di balik.
Menurutnya, kesaksian langsung dari nelayan atau awak kapal di sekitar lokasi kejadian akan sangat membantu proses verifikasi.
Terkait dugaan bahwa benda tersebut merupakan sampah antariksa, Thomas menegaskan hal tersebut dapat dikesampingkan.
“Karena sekitar waktu kejadian yang dilaporkan, 22 Januari 2026 pukul 20.00, tidak ada sampah antariksa yang jatuh,” kata dia memastikan.
Hingga saat ini, fenomena cahaya terang di langit Cianjur Selatan tersebut masih menjadi bahan kajian para ahli. Masyarakat diimbau tetap tenang dan tidak berspekulasi berlebihan sembari menunggu konfirmasi ilmiah lebih lanjut.
