Bupati Cianjur, Muhammad Wahyu, mengatakan terdapat banyak warga Cianjur yang saat ini berada di kawasan Timur Tengah, khususnya di Uni Emirat Arab, baik untuk berkunjung maupun bekerja sebagai pekerja migran Indonesia (PMI) di berbagai sektor.
Menurutnya, Pemkab Cianjur terus menjalin komunikasi dengan berbagai instansi terkait guna memastikan perlindungan dan keselamatan warga Cianjur yang berada di wilayah terdampak konflik.
"Tentu, kami sampai sekarang masih berkomunikasi dengan negara untuk perlindungan warga Cianjur di sana. Karena banyak warga kita, termasuk PMI yang sudah pulang, dengan adanya situasi konflik di sana," kata Wahyu, Senin (2/3/2026).
Bandara Ditutup, Proses Pemulangan Terkendala
Wahyu menjelaskan, situasi di lapangan saat ini cukup sulit. Beberapa negara yang terdampak konflik menghentikan sementara operasional penerbangan internasional, sehingga menyulitkan proses kepulangan warga.
"Di beberapa negara yang jadi sasaran peperangan terjadi di beberapa negara dan bandara pun di-stop operasinya. Sehingga warga kita susah pulang," ungkapnya.
Sebagai langkah alternatif, Pemkab Cianjur mempertimbangkan opsi evakuasi ke negara tetangga yang relatif lebih aman dan masih memiliki akses penerbangan menuju Indonesia.
"Dan tentu kita terus berusaha bagaimana memulangkan mereka, entah nanti dialihkan ke negara yang lain yang masih ada penerbangannya ke Indonesia," jelasnya.
Pendataan Warga dan Imbauan Tidak Berangkat Ilegal
Selain berupaya memfasilitasi pemulangan, Pemkab Cianjur juga tengah melakukan pendataan secara rinci terkait jumlah warga asal Cianjur yang berada di negara-negara terdampak konflik.
Wahyu menegaskan bahwa seluruh warga, baik yang berangkat secara prosedural maupun non-prosedural, tetap menjadi tanggung jawab pemerintah daerah.
"Mau yang prosedural ataupun non-prosedural tetap warga kami. Tetap harus dibantu. Tapi baiknya ke depan tidak diulangi, tidak berangkat secara ilegal, tapi melalui prosedur yang resmi," tuturnya.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar ke depan tidak berangkat bekerja ke luar negeri melalui jalur ilegal demi menghindari risiko hukum dan keselamatan.
Situasi Timur Tengah Memanas
Kondisi kawasan Timur Tengah memanas setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke wilayah Iran pada Sabtu (28/2/2026). Kompleks kediaman pemimpin tertinggi Iran di Teheran disebut dijatuhi puluhan bom. Sejumlah laporan menyebutkan bahwa pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, beserta beberapa petinggi militer Iran tewas dalam serangan tersebut.
Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan ke sejumlah target yang berkaitan dengan kepentingan AS dan Israel di kawasan tersebut. Dampak dari eskalasi konflik ini dirasakan di beberapa negara Timur Tengah seperti Bahrain, Qatar, dan Uni Emirat Arab, mengingat keberadaan pangkalan maupun aset militer AS di wilayah tersebut.
Akibat situasi keamanan yang memburuk, sejumlah penerbangan internasional dihentikan sementara dan aktivitas bandara di beberapa negara dibatasi.
Keluarga di Cianjur Resah
Sementara itu, keluarga warga Cianjur yang berada di Timur Tengah dilaporkan mulai resah. Mereka berharap pemerintah pusat dan daerah dapat segera menemukan solusi terbaik agar para pekerja migran dan warga lainnya bisa kembali ke Tanah Air dalam kondisi selamat.
Pemkab Cianjur memastikan akan terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat serta instansi terkait untuk memantau perkembangan situasi dan menyiapkan langkah-langkah konkret demi keselamatan warganya.
.webp)