-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Sejarah Pasarean Agung Cianjur dalam Jejak Kolonial

Kamis, 26 Maret 2026 | 05.21 WIB | 0 Views Last Updated 2026-03-25T22:21:05Z
Komplek Pemakaman Pasarean Agung, Cianjur. (Foto: Teras Muda Cianjur)


Di wilayah Cianjur , tepatnya di Kelurahan Pamoyanan , terdapat sebuah kompleks pemakaman yang dikenal sebagai Pasarean Agung . Siapa yang dimakamkan di sana? Mengapa lokasinya berada di pusat kota? Kapan kawasan ini mulai digunakan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi penting karena Pasarean Agung bukan sekadar tempat pemakaman umum, melainkan ruang sejarah yang berkaitan erat dengan lahirnya Kota Cianjur, pergeseran pusat pemerintahan, serta dinamika kekuasaan lokal sejak era VOC hingga Hindia Belanda . Kajian ini mencoba menelusuri sejarah Pasarean Agung dengan pendekatan berbasis sumber lokal, babad, dan arsip kolonial.

Latar Belakang Sejarah


Secara historis, perkembangan kota Cianjur tidak dapat dilepaskan dari proses pembentukan wilayah Priangan pada abad ke-17. Nama Cianjur sendiri telah tercatat dalam arsip VOC, khususnya dalam Dagh Register Kastil Batavia tahun 1678 , yang menyebut wilayah tersebut dengan variasi ejaan seperti “Santoir” dan “Simapack.”

Pada masa ini, Cianjur berkembang sebagai pusat pemerintahan lokal di bawah kepemimpinan Raden Aria Wira Tanu I dan penerusnya. Perpindahan pusat pemerintahan dari Cikundul ke Pamoyanan menjadi titik penting dalam sejarah kota.

Dalam konteks inilah, Pasarean Agung muncul sebagai bagian dari lanskap awal kota, yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat pemakaman, tetapi juga terkait dengan ruang kekuasaan dan simbol legitimasi elite lokal.

Asal-Usul Pasarean Agung dalam Sumber Lokal

Jejak dalam Babad Cianjur

Salah satu sumber penting yang menyebut Pasarean Agung adalah naskah lokal Babad Cianjur . Dalam naskah tersebut, Pasarean Agung disebut sebagai lokasi persinggahan tokoh awal Cianjur:

“…tempat bekas tidur Kangjeng Dalem , yang sekarang disebut Pasarean Agung…”

Keterangan ini menunjukkan bahwa:

  • Pasarean Agung awalnya bukan pemakaman
  • Melainkan tempat persinggahan tokoh elite (Dalem/bupati)
  • Kemudian berkembang menjadi lokasi sakral
  • Makna “Pasarean” dalam Tradisi Sunda

Dalam budaya Sunda, istilah makna “pasarean” memiliki spiritual sebagai:

  • Tempat untuk menampung tokoh
  • Ruang…
  • Situs ziarah

Perubahan fungsi dari tempat persinggahan menjadi makam merupakan fenomena umum dalam tradisi Jawa-Sunda.

Konteks Zaman: Priangan dalam Arsip VOC & Hindia Belanda

Pada abad ke-17 hingga 19, wilayah Priangan termasuk Cianjur menjadi bagian penting dalam sistem kolonial Belanda.

1. Era VOC (abad ke-17–18)

  • Cianjur masuk ke dalam jaringan administratif VOC
  • Berfungsi sebagai strategi wilayah agraris
  • Dipimpin oleh elite lokal (bupati) yang bekerja sama dengan VOC

2. Era Hindia Belanda (abad ke-19)

  • Diberlakukannya sistem tanam paksa ( cultuurstelsel )
  • Penguatan struktur struktural lokal
  • Peningkatan peran kota Cianjur sebagai pusat administrasi

Dalam sastra kolonial abad ke-19, Cianjur sempat menjadi ibu kota Karesidenan Priangan sebelum dipindahkan ke Bandung pada tahun 1864.

Dalam konteks ini, keberadaan Pasarean Agung sebagai makam elite menunjukkan keterkaitannya dengan struktur kekuasaan kolonial.

Peran Pasarean Agung dalam Struktur Sosial

Pasarean Agung memiliki fungsi yang lebih luas dari sekedar pemakaman:

1. Simbol Legitimasi Kekuasaan

Makam para bupati di satu lokasi mencerminkan:

  • Kepemimpinan Kontinuitas
  • Legitimasi politik
  • Status sosial elit

2. Ruang Sakral dan Ziarah

masa awal, lokasi ini menjadi:

  • Tempat tinggalnya
  • Pusat aktivitas spiritual masyarakat

3. Arsip Sosial (Arsip Sosial)

Tanpa dokumentasi tertulis yang lengkap, Makam menjadi:

  • Penanda sejarah
  • Sumber pengetahuan tokoh lokal

Tokoh-Tokoh Penting di Pasarean Agung

Berdasarkan sumber toponimi dan sejarah lokal, sejumlah tokoh penting yang dimakamkan di kawasan ini, antara lain:

  1. Raden Aria Wira Tanu II
  2. Raden Aria Wira Tanu III
  3. Raden Adipati Kusumaningrat
  4. Pangeran Hidayatullah II

Tokoh-tokoh ini berperan dalam:

  • Pembesaran wilayah Cianjur
  • Administrasi kolonial
  • Perlawanan terhadap Belanda (dalam kasus Hidayatullah II)

Data ini didukung oleh masyarakat lokal yang menyebut Pasarean sebagai lokasi pemakaman para bupati dan tokoh penting.

Perubahan Fungsi dari Masa ke Masa

Masa Awal (Pra-Kolonial – Awal Kolonial)

  • Tempat persinggahan elite
  • Kemudian menjadi makam keluarga bangsawan

Masa Kolonial

  • Kompleks elit lokal
  • Bagian dari struktur kekuasaan

Masa Kemerdekaan

  • Fungsinya meluas menjadi pemakaman umum
  • Tetap mempertahankan nilai historis

Era Modern

  • TPU aktif di tengah kota
  • Mengalami tekanan urbanisasi


Sebagian wilayah menjadi jalur aktivitas masyarakat

Fakta Unik (Berbasis Analisis Historis)

1. Berasal dari Tempat “Singgah”, Bukan Makam

Data babad menunjukkan fungsi awalnya sebagai tempat persinggahan elit.

2. Terletak di Zona “Titik Nol Sejarah”

Pamoyanan merupakan lokasi awal pemerintahan pusat Cianjur.

3. Minim Arsip Resmi

Keterbatasan data tertulis menjadi kendala utama dalam merekonstruksi sejarah Cianjur.

Ini menjelaskan mengapa Pasarean Agung lebih banyak dikenal melalui tradisi lisan dan sumber lokal.

Kondisi terkini

Saat ini, Pasarean Agung:

  • Masih aktif sebagai TPU
  • Dikelola pemerintah daerah
  • Menjadi bagian dari kehidupan perkotaan masyarakat

Namun menghadapi tantangan:

  • Keterbatasan lahan
  • Minimalnya penghematan sejarah
  • Belum optimal sebagai situs edukasi

  • Kesimpulan yang Relevan

Pasarean Agung merupakan situs bersejarah yang mencerminkan perjalanan panjang Cianjur , mulai dari era babad, VOC, hingga modern.

Ia bukan hanya tempat pemakaman, tetapi:

  • Simbol kekuasaan lokal
  • Penanda sejarah kota
  • Arsip sosial yang hidup

Namun, dokumentasi minimalnya resmi menunjukkan perlunya:

  • Penelitian lebih lanjut akademik lebih lanjut
  • Pelestarian berbasis data
  • Integrasi dalam narasi sejarah daerah

Dengan pendekatan ilmiah yang lebih kuat, Pasarean Agung berpotensi menjadi situs sejarah penting di Jawa Barat, sejajar dengan pusat-pusat sejarah lokal lainnya.




Daftar Referensi

  • Arsip VOC – Dagh Daftar Batavia (1678)
  • Naskah lokal: Babad Cianjur
  • Toponimi Pamoyanan – Kali Cianjur
  • Sejarah Kabupaten Cianjur – PPM Indonesia
  • Literatur sejarah Priangan – Hindia Belanda
  • Kajian historiografi lokal Cianjur
  • Sumber umum: arsip kolonial Belanda (Archief Nasional), literatur Ricklefs & de Graaf, dokumen Pemkab Cianjur
×
Berita Terbaru Update