Hampir Satu Dekade Merantau, Pedagang Somay Asal Cianjur Bertahan di Gorontalo
Dikutip dari Gorontalo Post, Rabu (1/4/2026), perjalanan Narna ke tanah rantau bermula dari ajakan seorang pemilik usaha yang membuka lapangan pekerjaan bagi belasan orang. Sekitar 15 pekerja direkrut dan ditempatkan di sejumlah titik berbeda untuk berjualan. Narna sendiri dipercaya mengelola lapak di kawasan Suwawa, yang hingga kini menjadi tempatnya menggantungkan hidup.
“Awalnya saya ikut bos ke sini karena memang butuh pekerjaan. Waktu itu belum tahu kondisi di Gorontalo seperti apa, tapi saya coba saja. Setelah sampai di sini, langsung belajar jualan dan sampai sekarang masih bertahan. Sudah hampir sepuluh tahun, jadi sudah terbiasa dengan lingkungan dan pembeli di sini,” ujar Narna saat ditemui di sela aktivitasnya. Rabu (1/4/2026).
Dalam menjalankan usahanya, Narna setiap hari membawa sekitar 700 porsi somay untuk dijajakan kepada masyarakat. Namun, jumlah tersebut tidak selalu habis terjual. Ia mengakui, kondisi penjualan sangat bergantung pada situasi di lapangan.
“Kadang ramai, kadang juga sepi, tidak bisa dipastikan. Kalau lagi ramai bisa cepat habis, tapi kalau sepi ya harus sabar. Yang penting tetap jualan saja setiap hari, karena ini sudah jadi sumber penghasilan utama,” tambahnya.
Dari hasil penjualan, Narna mendapatkan bagian sebesar 30 persen melalui sistem bagi hasil yang diterapkan oleh pemilik usaha. Meski bukan jumlah yang besar, pendapatan tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya selama merantau.
Kisah Narna menjadi gambaran nyata perjuangan pekerja di sektor informal yang mengandalkan pendapatan harian. Dengan ketekunan dan semangat yang tidak surut, ia terus bertahan menghadapi berbagai tantangan demi mencukupi kebutuhan hidup di perantauan.

COMMENTS