Jelajahi suasana pagi Cianjur dari Taman Kreatif Joglo hingga CFD yang ramai, lengkap dengan momen latihan karate dan ditutup kuliner kupat tahu murah
Perjalanan itu dimulai dari kawasan Taman Kreatif Joglo, sebuah ruang publik yang perlahan menjadi denyut baru aktivitas warga. Setelah sejenak menikmati suasana taman, langkah kaki pun berlanjut menyusuri Jalan Siliwangi, salah satu ruas jalan utama yang sejak pagi sudah mulai dipenuhi aktivitas.
Tak butuh waktu lama hingga kami tiba di kawasan militer, tepatnya di Komando Resor Militer 061/Suryakancana dan Komando Distrik Militer 0608/Cianjur. Namun, pagi itu bukan suasana formal yang mencuri perhatian, melainkan halaman yang dipenuhi semangat para pemuda dan anak-anak.
Puluhan bahkan ratusan peserta terlihat tengah berlatih karate. Seragam putih berbaris rapi, suara hentakan kaki dan teriakan penuh energi menggema, memecah sunyi pagi menjadi irama yang hidup. Pemandangan ini menghadirkan rasa optimisme, bahwa generasi muda Cianjur tumbuh dengan disiplin dan semangat.
Perjalanan dilanjutkan dengan langkah santai, ditemani hangatnya mentari pagi yang perlahan meninggi. Ada ketenangan yang sulit dijelaskan seolah setiap sudut kota menawarkan ruang untuk bernapas lebih lega.
Arah pun berbalik. Kami menuju pertigaan Toserba, mengambil jalur kiri yang mengarah kembali ke kawasan Joglo. Jalur ini terasa berbeda, lebih padat, lebih hidup. Aktivitas warga tampak mengalir tanpa jeda.
Kami melintas di depan SMAN 1 Cianjur, yang berdiri kokoh sebagai salah satu sekolah favorit di kota ini. Tepat di seberangnya, SMK Negeri 1 Cianjur juga menunjukkan geliatnya menjadi saksi rutinitas pendidikan yang terus berjalan.
Langkah kaki akhirnya membawa kami ke pusat keramaian pagi itu: Car Free Day (CFD) di kawasan Joglo. Jalan yang biasanya dipadati kendaraan kini berubah total. Aspal yang sama, tapi dengan suasana yang sepenuhnya berbeda.
Anak-anak berlarian bebas tanpa khawatir kendaraan melintas. Pedagang kaki lima berjajar rapi, menawarkan beragam kuliner dari jajanan tradisional hingga minuman segar yang menggoda. Musik terdengar dari kejauhan, bercampur dengan tawa dan obrolan warga yang menikmati akhir pekan.
Beberapa komunitas tampak menggelar aktivitas senam bersama, bersepeda santai, hingga sekadar berkumpul melepas penat. CFD bukan hanya soal menutup jalan dari kendaraan, tapi membuka ruang interaksi, kebersamaan, dan kehidupan sosial yang hangat.
Setelah puas menyerap energi pagi, perjalanan pun ditutup dengan langkah pulang.
Namun, seperti tradisi tak tertulis setiap perjalanan di Cianjur, pulang rasanya belum lengkap tanpa membawa oleh-oleh. Di tengah perjalanan, kami menyempatkan diri mampir ke Kupat Tahu Umi.
Sederhana, tapi selalu dirindukan. Dua bungkus kupat tahu dibeli untuk dibawa pulang. Dengan harga hanya Rp10 ribu per porsi, hidangan ini bukan hanya ramah di kantong, tapi juga kaya rasa. Perpaduan ketupat, tahu, bumbu kacang, dan kerupuk menghadirkan cita rasa khas yang sulit ditolak.
Perjalanan pagi itu mungkin sederhana hanya berjalan kaki, menyusuri jalan, dan menikmati apa yang ada. Tapi justru di situlah letak keistimewaannya.
Cianjur, dengan segala kesederhanaannya, selalu punya cerita. Tinggal bagaimana kita melangkah, melihat, dan merasakannya.

COMMENTS