Selama 5 tahun tanpa jembatan, warga Cibuni Cianjur mengandalkan rakit untuk menyebrangi Sungai Cibuni. Kisah ini viral dan menyentuh perhatian publik
Di belakang Pesantren Taluk Agung, sebuah rakit sederhana menjadi nadi kehidupan. Bukan sekadar alat transportasi, rakit ini adalah penghubung harapan bagi warga yang harus menyeberangi sungai setiap hari.
Rakit, Satu-satunya Akses yang Tersisa
Sudah sekitar lima tahun terakhir, warga di wilayah ini hidup tanpa jembatan. Bukan karena tak pernah ada, melainkan karena jembatan yang beberapa kali dibangun selalu tak mampu bertahan menghadapi derasnya arus Sungai Cibuni saat debit air meningkat.
Setiap musim hujan datang, ancaman itu selalu nyata. Arus sungai yang kuat kerap merobohkan struktur jembatan yang ada. Hingga akhirnya, harapan akan jembatan perlahan memudar, digantikan oleh realitas: rakit menjadi satu-satunya akses yang bisa diandalkan.
Rakit kayu yang digunakan pun bukanlah fasilitas resmi dengan standar keselamatan tinggi. Ia dibuat seadanya, namun dirawat dengan penuh tanggung jawab oleh seorang warga yang setiap hari menjadi operatornya.
Operator Rakit dan Ketulusan Tanpa Tarif
Seorang bapak warga setempat menjadi sosok penting di balik keberlangsungan aktivitas penyeberangan ini. Setiap hari, ia mengayuh dan mengarahkan rakit, membantu warga menyeberang dari satu sisi ke sisi lain Sungai Cibuni.
Penumpangnya beragam mulai dari petani yang hendak ke ladang, pekerja yang mencari nafkah, hingga anak-anak sekolah yang mengejar pendidikan di seberang sana.
Yang membuatnya semakin menyentuh, jasa penyeberangan ini tidak dipatok tarif. Warga hanya membayar seikhlasnya.
Di tengah keterbatasan, praktik ini menjadi cerminan kuat budaya gotong royong yang masih hidup di tengah masyarakat pedesaan.
Risiko yang Selalu Mengintai
Meski telah menjadi bagian dari keseharian, penggunaan rakit tetap menyimpan risiko, terutama saat kondisi cuaca tidak bersahabat. Debit air yang tiba-tiba meningkat bisa membuat arus sungai menjadi lebih deras dan berbahaya.
Anak-anak sekolah yang menyeberang pun harus menghadapi tantangan yang tak ringan setiap harinya. Namun, demi pendidikan, mereka tetap melangkah.
Viral di Media Sosial, Harapan Kembali Menguat
Kisah ini mencuat ke publik setelah sebuah video diunggah oleh akun Facebook Mamang Badar. Dalam video tersebut, terlihat jelas bagaimana warga bergantung pada rakit untuk menjalani aktivitas sehari-hari.
Unggahan itu pun menjadi perhatian luas netizen. Banyak yang menyuarakan empati, sekaligus berharap agar kondisi ini segera mendapat perhatian dari pihak berwenang.
Harapan Akan Jembatan yang Layak
Kondisi ini menjadi pengingat bahwa infrastruktur dasar seperti jembatan masih menjadi kebutuhan mendesak di sejumlah wilayah. Bagi warga Cibuni, jembatan bukan sekadar bangunan fisik, tetapi simbol akses terhadap pendidikan, ekonomi, dan keselamatan.
Harapan itu masih ada. Warga percaya, suatu hari nanti, jembatan yang kokoh akan benar-benar berdiri dan mampu bertahan dari derasnya arus Sungai Cibuni.
Sampai saat itu tiba, rakit sederhana ini akan terus menjadi saksi perjuangan mereka—menghubungkan dua sisi, sekaligus menjaga harapan tetap hidup.

COMMENTS