Nitrit pada tumis pakcoy MBG Cianjur ditemukan 169 kali di atas batas aman. BGN sebut temuan ini sangat serius bagi keamanan pangan.
Hasil pemeriksaan menunjukkan sebagian besar menu makanan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Leles 2, Sukasirna, dinyatakan aman dari kontaminasi bakteri. Namun, tim investigasi menemukan adanya cemaran zat kimia nitrit pada menu tumis pakcoy dengan kadar jauh di atas ambang batas aman.
Ketua Tim Investigasi Independen BGN, Arie Karimah Muhammad, mengatakan kadar nitrit yang ditemukan dalam menu tumis pakcoy mencapai tingkat yang sangat mengkhawatirkan.
"Jika merujuk batas maksimum JECFA untuk nitrit, yakni 0,07 mg/kg berat badan per hari. Tumis pakcoy tersebut mengandung 11,85 mg/kg, maka temuan di SPPG Leles 2 Cianjur mencapai 169 kali lipat di atas batas aman," ujar Arie dalam Instagram resmi Sidak BGN yang dikutip Antara di Jakarta, Senin (11/5/2026).
Meski demikian, investigasi juga memastikan mayoritas sampel makanan lainnya tidak terpapar bakteri berbahaya. Berdasarkan hasil uji Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Jawa Barat, menu makanan pada tanggal 13, 14, 15, 17, dan 18 April 2026 dinyatakan negatif dari kontaminasi Salmonella sp, S. aureus, E.Coli, serta B.cereus.
Menurut Arie, secara alami sejumlah sayuran dan buah memang dapat mengandung nitrit. Namun kadarnya bisa meningkat akibat aktivitas bakteri yang mengubah nitrat menjadi nitrit.
"Dugaan sumber cemaran lain dapat berasal dari penggunaan pupuk organik atau nitrogen berlebihan, air resapan tercemar kotoran manusia atau hewan, atau limbah pabrik kimia di sekitar lahan pertanian," ujar dia.
BGN menilai temuan tersebut perlu mendapat perhatian serius karena berpotensi berdampak luas terhadap keamanan pangan dalam program MBG. Oleh sebab itu, tim investigasi meminta Kedeputian Sistem dan Tata Kelola serta Pemantauan dan Pengawasan BGN untuk segera melakukan pembahasan bersama Kementerian Pertanian.
"Temuan nitrit dinilai sangat serius dan berpotensi berdampak luas pada keamanan pangan," ucap Arie.
Ia menjelaskan paparan nitrit dalam jumlah tinggi dapat memicu kondisi methaemoglobinemia, yakni gangguan ketika hemoglobin dalam darah tidak mampu membawa oksigen secara optimal ke seluruh tubuh.
"Akibatnya, tubuh bisa terasa lemas dan muncul sesak napas, karena sel-sel tubuh kekurangan oksigen," tuturnya.
Kasus ini sebelumnya menjadi perhatian publik setelah sejumlah siswa dilaporkan mengalami gangguan kesehatan usai mengonsumsi makanan dari program MBG di Cianjur. Pemerintah daerah bersama instansi kesehatan kemudian melakukan pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan sekaligus mengevaluasi proses pengolahan hingga distribusi makanan.
Hasil investigasi ini diharapkan menjadi bahan evaluasi penting agar pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis ke depan semakin aman, higienis, dan memenuhi standar kesehatan pangan nasional.
.png)
COMMENTS