Kampung Ternak Cianjur binaan Dompet Dhuafa berkembang dari 20 domba menjadi pusat pemberdayaan ekonomi dan dakwah masyarakat.

Perjalanan panjang itu bermula pada tahun 2017. Saat itu, program hanya melibatkan 10 orang penerima manfaat dengan total 20 ekor domba sebagai modal awal pengembangan usaha ternak.
“Awalnya hanya 10 orang penerima manfaat dengan 20 ekor domba,” ujar Ayi Rahmat, Peternak, saat menceritakan kembali titik nol berdirinya Kampung Ternak di Kabupaten Cianjur pada 2017 silam.
Seiring waktu, program tersebut berkembang jauh melampaui konsep awalnya. Jika sebelumnya fokus utama hanya pada penggemukan hewan untuk kebutuhan Program Tebar Hewan Kurban (THK), kini Kampung Ternak telah memiliki sistem usaha yang lebih lengkap, mulai dari pembibitan hingga Rumah Potong Hewan (RPH) sendiri.
“Alhamdulillah, sekarang sudah ada 30 penerima manfaat langsung dan sekitar 70 sampai 80 orang penerima manfaat tidak resmi. Setelah ada pengembangan, penjualan kami sekarang dilakukan secara langsung; bukan hanya untuk THK saja, namun sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan,” ujar Peternak yang akrab disapa Kang Ayi.
Perkembangan tersebut bukan hanya terlihat dari bertambahnya jumlah ternak atau fasilitas usaha, tetapi juga dari meningkatnya taraf hidup masyarakat yang terlibat di dalamnya. Mayoritas peternak binaan sebelumnya bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan yang tidak menentu.
Melalui program pemberdayaan tersebut, banyak keluarga mulai memiliki sumber ekonomi yang lebih stabil. Sebagian bahkan berhasil membangun rumah, membiayai pendidikan anak hingga ke perguruan tinggi, sampai menikahkan anak mereka.
“Sebenarnya karena latar belakang penerima manfaat ini adalah petani, mereka kuli di sawah. Alhamdulillah, setelah ada program ini, ada petani yang bisa bikin rumah, anak-anaknya sampai kuliah, bahkan sampai menikahkan anaknya,” ungkapnya penuh haru.
Bagi masyarakat pedesaan, ternak domba bukan sekadar hewan peliharaan. Domba menjadi aset ekonomi yang bisa diandalkan saat kebutuhan mendesak datang. Karena itu, keberadaan program Kampung Ternak dinilai memberikan rasa aman sekaligus harapan bagi para peternak kecil.
“Bagi para peternak, memelihara domba itu ibarat memiliki ‘celengan’ yang sangat berharga bagi masa depan mereka,” tambah Kang Ayi.
Tidak hanya bergerak di bidang ekonomi, Kampung Ternak juga berkembang menjadi pusat kegiatan sosial dan keagamaan masyarakat sekitar. Bersama dukungan berbagai pihak, termasuk lingkungan Pondok Pesantren Suffah Al Mustannir, program tersebut kini aktif menjalankan kegiatan dakwah dan pendidikan.
“Program kita yang awalnya hanya peternakan, sekarang melebar ke dakwah dan pendidikan. Ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan juga dengan Kampung Ternak. Ada Majelis Taklim rutin yang diikuti sekitar 50 ibu-ibu dan 25 bapak-bapak setiap minggunya,” jelasnya.
Saat ini, Rumah Potong Hewan (RPH) yang dimiliki Kampung Ternak mampu memotong sekitar 70 hingga 90 ekor domba setiap bulan untuk memenuhi berbagai kebutuhan pasar. Capaian tersebut menjadi bukti bahwa program pemberdayaan berbasis zakat produktif dapat menciptakan kemandirian ekonomi yang nyata bagi masyarakat.
Melalui pengembangan usaha peternakan yang berkelanjutan, Kampung Ternak di Kabupaten Cianjur kini tidak hanya menjadi tempat beternak, tetapi juga simbol perubahan sosial, pendidikan, dan penguatan ekonomi umat di tingkat akar rumput.
Masyarakat yang ingin ikut mendukung pemberdayaan peternak lokal melalui program kurban dapat mengakses layanan resmi Dompet Dhuafa Kurban Digital.


COMMENTS