Jalan kaki di Babakan Karet Cianjur menyuguhkan panorama sawah, sungai, jembatan merah, dan suasana pedesaan yang asri serta menenangkan.
Setelah sebelumnya berjalan kaki dari Tugu Lampu Gentur menuju kawasan Wisata Taman Kehati Babakan Karet, perjalanan kali ini dilanjutkan dengan rute pulang yang berbeda. Tak disangka, jalur alternatif tersebut justru menghadirkan pengalaman menarik dengan panorama khas pedesaan Cianjur yang begitu memukau.
Menyusuri Pagi yang Asri di Desa Babakan Karet
Perjalanan berlangsung pada Minggu pagi, 21 Juni 2026. Saat memasuki wilayah Desa Babakan Karet, Kecamatan Cianjur, suasana pedesaan langsung terasa begitu kental.
Di tengah perjalanan, kami melewati pasar tumpah yang sedang ramai. Para pedagang tampak sibuk melayani pembeli yang datang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Aktivitas ekonomi masyarakat yang berlangsung sejak pagi hari menjadi pemandangan menarik yang menambah warna perjalanan.
Suasana pasar yang hidup perlahan berganti ketika perjalanan terus berlanjut menyusuri jalan desa. Semakin jauh melangkah, suasana menjadi lebih tenang. Tidak banyak permukiman warga yang terlihat. Di sisi kanan dan kiri jalan terbentang lahan terbuka dengan panorama alam yang menyejukkan mata.
Kondisi jalan yang beraspal hitam dan relatif mulus membuat perjalanan terasa nyaman. Minimnya kerusakan jalan menjadi nilai tambah bagi siapa saja yang ingin menikmati aktivitas berjalan kaki maupun bersepeda di kawasan ini.
Bertemu Anak-anak yang Ceria di Tengah Alam Pedesaan
Di tengah perjalanan, kami bertemu beberapa anak yang sedang bersepeda. Mereka tampak gembira menikmati pagi sambil bermain bersama teman-temannya.
Langit saat itu masih terlihat mendung. Sinar matahari pagi belum sepenuhnya muncul, seolah masih malu-malu menembus awan. Justru kondisi tersebut menciptakan suasana yang sejuk dan nyaman untuk berjalan kaki.
Tidak lama kemudian, kami tiba di kawasan yang dipenuhi pepohonan rindang. Di lokasi ini terdapat sebuah pondok pesantren yang berdiri di tengah lingkungan yang asri. Udara terasa lebih segar, sementara suara alam menjadi teman perjalanan.
Pemandangan di sekitar lokasi benar-benar memanjakan mata. Jalan yang baik berpadu dengan hamparan hijau di sekitarnya membuat perjalanan terasa semakin menyenangkan.
Menemukan Jembatan Merah "NOTOG" yang Ikonik
Perjalanan kemudian membawa kami menuju sebuah perkampungan yang tenang. Suasana di wilayah ini cukup sepi, namun justru menghadirkan ketenangan yang sulit ditemukan di perkotaan.
Di sinilah kami menemukan salah satu spot menarik yang layak diabadikan. Sebuah jembatan berwarna merah berdiri kokoh membentang di atas aliran sungai.
Meski telah berusia lebih dari satu dekade, kondisi jembatan tersebut masih terlihat terawat dengan baik. Berdasarkan informasi yang tertera, jembatan bernama "NOTOG" itu selesai dibangun pada Desember 2010.
Keindahan di sekitar jembatan semakin melengkapi pesonanya. Hamparan sawah, aliran sungai yang jernih, serta pepohonan hijau menciptakan panorama khas pedesaan yang begitu menenangkan.
Tak heran jika lokasi ini menjadi salah satu titik favorit selama perjalanan pulang.
Hamparan Sawah, Kolam Ikan, dan Ternak Sapi
Tidak jauh dari jembatan, perjalanan kembali disuguhi berbagai pemandangan khas pedesaan.
Terdapat kolam ikan yang berada di dekat area persawahan. Pohon kelapa menjulang tinggi di beberapa titik, sementara hamparan sawah yang luas membentang hingga ke kejauhan.
Di area tersebut juga terlihat beberapa ternak sapi milik warga yang sedang berada di sekitar lahan pertanian. Pemandangan seperti ini menjadi gambaran nyata kehidupan masyarakat desa yang masih erat dengan sektor pertanian dan peternakan.
Menyusuri jalur di dekat sungai, kami kembali menemukan beberapa kolam yang diduga digunakan untuk budidaya ikan lele. Suasana tenang dan alami membuat perjalanan terasa begitu menyenangkan.
Kampung yang Rapi dan Warga yang Ramah
Memasuki perkampungan berikutnya, suasana yang berbeda mulai terasa. Rumah-rumah warga tertata rapi dengan sejumlah bangunan yang tampak lebih modern.
Warga yang ditemui sepanjang perjalanan juga terlihat ramah. Beberapa menyapa dengan senyum hangat yang menjadi ciri khas masyarakat pedesaan.
Di sepanjang jalan terlihat pagar berwarna merah yang mempercantik lingkungan sekitar. Hamparan sawah, saluran irigasi, dan aliran sungai masih menjadi pemandangan utama yang menemani perjalanan.
Meski sebagian besar sawah saat itu telah selesai dipanen, panorama pedesaan tetap menghadirkan keindahan tersendiri yang sulit untuk diabaikan.
Berakhir di Tugu Lampu Gentur
Perjalanan terus berlanjut hingga akhirnya tiba di kawasan yang lebih ramai. Ternyata jalur alternatif yang kami pilih tembus ke Jalan Raya Dr. Muwardi.
Dari titik tersebut, perjalanan berjalan kaki pagi hari pun berakhir kembali di Tugu Lampu Gentur, tempat awal petualangan dimulai.
Meski hanya menyusuri jalan desa di sekitar Babakan Karet, pengalaman yang didapat terasa sangat berkesan. Mulai dari pasar tradisional, jalan pedesaan yang tenang, jembatan merah yang ikonik, hingga hamparan sawah dan keramahan warga, semuanya menjadi bagian dari pesona Cianjur yang layak untuk dinikmati.
Bagi Anda yang ingin mencari suasana berbeda di akhir pekan, berjalan kaki menyusuri pedesaan Babakan Karet bisa menjadi pilihan menarik untuk menikmati sisi lain keindahan alam Cianjur yang masih asri dan menenangkan.

COMMENTS