Harga kedelai impor naik akibat rupiah melemah. Sejumlah pabrik tahu di Cianjur tutup produksi dan puluhan pekerja terdampak.
Kondisi tersebut dirasakan oleh banyak perajin tahu dan tempe yang selama ini bergantung pada pasokan kedelai impor. Selain harus menghadapi kenaikan harga bahan baku, para pelaku usaha juga dihadapkan pada menurunnya daya serap pasar yang berdampak pada penjualan produk mereka.
Salah satu pelaku usaha yang terdampak adalah Taufik Munandar. Pemilik pabrik tahu di Kabupaten Cianjur itu mengaku kenaikan harga kedelai impor menjadi beban yang sulit ditanggung oleh usaha yang dijalankannya.
Menurut dia, industri tahu dan tempe sangat bergantung pada bahan baku impor sehingga perubahan nilai tukar rupiah langsung berpengaruh terhadap harga kedelai di pasaran.
"Sekarang harga 1 kilogram kedelai impor sudah tembus Rp 10.500. padahal bisanya di angka Rp 9.000 atau di bawah Rp 10 ribu," katanya dikutip dari Detik, Minggu (7/6/2026).
Lonjakan harga tersebut berdampak langsung pada meningkatnya biaya produksi. Meski kenaikan harga per kilogram tidak terlihat terlalu besar, kebutuhan kedelai dalam jumlah banyak membuat beban usaha meningkat secara signifikan.
"Ongkos produksi naik drastis. Meskipun kenaikan hanya Rp 1.000, kita kan pakai banyak jadi terasa dampaknya," kata dia.
Tekanan yang terus berlangsung akhirnya membuat Taufik mengambil keputusan menghentikan kegiatan produksinya. Ia menilai kondisi usaha sudah tidak memungkinkan untuk terus dijalankan tanpa menimbulkan kerugian yang lebih besar.
"Sudah hampir dua bulan tutup. Harga bahan baku terus naik, sementara permintaan tahu justru menurun. Kalau dipaksakan produksi, kerugiannya akan semakin besar," katanya.
Penutupan pabrik tersebut turut berdampak pada para pekerja yang selama ini menggantungkan penghasilan dari usaha tersebut. Sebelum menghentikan operasional, pabrik milik Taufik diketahui mempekerjakan belasan orang karyawan.
"Terakhir ada 14 karyawan yang bekerja di sini. Setelah pabrik berhenti, mereka tentu terdampak karena tidak lagi bekerja seperti biasanya," katanya.
Situasi serupa juga dialami Hamidah, pemilik pabrik tahu lainnya di Kabupaten Cianjur. Ia mengungkapkan bahwa kenaikan harga kedelai membuat kebutuhan modal produksi semakin besar, sementara kapasitas produksi justru menurun karena keterbatasan dana yang tersedia.
"Modal kan sama, sedangkan bahan baku naik. Jadi produksi hanya sedikit. Di sisi lain, penjualan minim. Keuntungan tidak menutup biaya produksi, seringnya nombok," kata dia.
Menurut Hamidah, melanjutkan produksi dalam kondisi saat ini hanya akan memperbesar kerugian yang harus ditanggung pelaku usaha.
"Kalau diteruskan bukan hanya tidak dapat untung, tapi terus merugi," kata dia.
Sementara itu, Ketua Koperasi Perajin Tahu Tempe Indonesia (Kopti) Kabupaten Cianjur, Hugo Siswaya, membenarkan bahwa kenaikan harga kedelai masih terus terjadi seiring melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Ia menjelaskan, meskipun kenaikan harga saat ini tidak terjadi secara drastis seperti beberapa waktu lalu, dampaknya tetap dirasakan oleh para pengusaha tahu dan tempe di wilayah Cianjur.
"Kalau dulu sekali mengalir kenaikan bisa sangat drastis. Kalau sekarang naiknya sedikit-sedikit. Tapi tetap dampaknya terasa. Ada sekitar 300 pengusaha tahu dan tempe di Cianjur, sebagai besar mulai merasakan dampaknya. Diharapkan ada langkah dari pemerintah untuk menyetabilkan harga," pungkasnya.
Hugo menambahkan, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian karena industri tahu dan tempe merupakan salah satu sektor usaha yang menyerap tenaga kerja cukup besar di tingkat lokal.
Para pelaku usaha berharap pemerintah dapat mengambil langkah konkret untuk menjaga stabilitas harga bahan baku serta memperkuat daya tahan sektor usaha kecil. Mereka menilai, tanpa adanya upaya pengendalian yang efektif, tekanan akibat kenaikan harga kedelai tidak hanya mengancam keberlangsungan usaha tahu dan tempe, tetapi juga berpotensi memengaruhi penghidupan ratusan pekerja yang bergantung pada sektor tersebut.

COMMENTS