![]() |
| Foto Ilustrasi |
Botram—makan bersama dengan alas daun pisang atau nasi yang disajikan berjajar—telah lama menjadi tradisi masyarakat Sunda. Tak ada sekat status sosial, tak ada piring khusus. Semua duduk sejajar, mengambil makanan secukupnya, lalu makan bersama dalam suasana akrab.
Liwetan pun serupa. Nasi liwet disajikan memanjang, dikelilingi lauk sederhana seperti ikan asin, tahu, tempe, sambal, dan lalapan. Kesederhanaan itulah yang justru melahirkan rasa kebersamaan yang kuat.
Lebih dari Sekadar Makan
Dalam botram dan liwetan, tersimpan nilai luhur:
- Kebersamaan: semua setara, tak ada yang lebih tinggi
- Gotong royong: mulai dari memasak hingga membersihkan
- Kesederhanaan: makanan apa adanya, tanpa berlebih
- Syukur: menikmati rezeki bersama-sama
Tradisi ini kerap hadir dalam berbagai momen: panen raya, kegiatan kampung, pengajian, hingga acara keluarga. Ia menjadi media mempererat hubungan sosial antarwarga.
Relevansi di Zaman Sekarang
Di tengah gaya hidup modern yang serba individual, botram dan liwetan menjadi pengingat bahwa makan bersama adalah perekat sosial. Tak heran jika tradisi ini kini dihidupkan kembali di sekolah, komunitas, bahkan perkantoran sebagai simbol kebersamaan.
Botram mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari hidangan mewah, tetapi dari kebersamaan dan rasa saling memiliki.
Warisan yang Perlu Dijaga
Botram dan liwetan bukan sekadar tradisi, melainkan warisan budaya. Jika generasi muda tak lagi mengenalnya, maka perlahan nilai-nilai luhur itu akan memudar.
Sebagaimana falsafah Sunda:
Makan bersama, hidup pun rukun
