-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Ritual Mandi ‘Celup’ di Cianjur Viral, Pihak Padepokan Tegaskan Bukan Ajaran Sesat

Kamis, 22 Januari 2026 | 14.04 WIB | 0 Views Last Updated 2026-01-23T07:10:39Z
Ritual mandi 'Celup'. (Foto: Istimewa)


Media sosial dihebohkan dengan beredarnya video ritual mandi yang dikenal dengan istilah mandi “celup” di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Ritual tersebut dinarasikan dapat mendatangkan kekayaan dan jodoh, sehingga memicu beragam reaksi publik, termasuk tudingan sebagai ajaran sesat.

Dalam video yang viral, tampak seorang pria tengah berendam di sebuah kolam. Di belakangnya, seorang pria berkopiah hitam memegangi kepala pria tersebut sambil melantunkan doa berbahasa Arab, lalu menenggelamkan tubuhnya ke dalam air selama beberapa detik.

Diketahui, ritual tersebut berlangsung di Padepokan Lembah Dzikir, Kampung Salahuni, Desa Babakan Karet, Kecamatan Cianjur. Menanggapi polemik yang berkembang, pimpinan padepokan angkat bicara untuk meluruskan informasi yang beredar.

Pimpinan Padepokan Lembah Dzikir, H Nasrudin, menjelaskan bahwa mandi “celup” merupakan bagian dari rangkaian riyadhoh atau latihan spiritual yang dijalani para jemaah yang mondok di padepokan tersebut.

“Peserta yang mondok untuk riyadhoh di tempat kami memang diharuskan menjalankan beberapa hal, mulai dari puasa, zikir, hingga mandi tobat. Yang viral di media sosial itu sebenarnya mandi tobat,” kata Nasrudin saat ditemui di padepokannya, Kamis (22/1/2026).

Menurutnya, narasi yang beredar di media sosial tidak disampaikan secara utuh. Ia menegaskan bahwa mandi “celup” atau mandi tobat berkaitan dengan kesiapan diri secara lahir dan batin sebelum menjemput rezeki maupun jodoh.

“Intinya mandi itu agar bersih. Kalau sudah bersih, kan, bisa bekerja. Begitu juga cari jodoh, masa tidak mandi dulu? Nanti terlihat kusam, siapa yang mau? Jadi utamanya adalah niat mandi tobat dan membersihkan diri,” tuturnya.

Pria yang akrab disapa Kang Jimam itu membantah tudingan bahwa aktivitas di padepokannya menyimpang dari ajaran Islam. Ia menegaskan seluruh amalan yang dijalankan memiliki dasar keilmuan dan sanad yang jelas dari para ulama terdahulu.

“Sanadnya jelas, ada riwayatnya. Misalnya soal mandi tobat, puasa kafarat, dan zikir membaca surat Al-Ikhlas sebanyak 100 ribu kali dalam tiga hari,” jelasnya.

Ia juga menekankan latar belakang keluarganya yang berasal dari kalangan pesantren sebagai bentuk tanggung jawab moral atas aktivitas yang dijalankan di padepokan tersebut.

“Kalau aktivitas kami sesat, keluarga saya yang paling pertama menegur. Tapi karena tidak sesat, mereka mendukung,” tambahnya.

Lebih lanjut, Nasrudin mengungkapkan bahwa sejumlah ulama telah mendatangi langsung padepokan tersebut untuk mengonfirmasi kegiatan yang viral di media sosial. Setelah mendapatkan penjelasan serta melihat referensi kitab yang digunakan, para ulama tersebut dapat memahami praktik yang dijalankan.

Menurutnya, seluruh aktivitas di Padepokan Lembah Dzikir bertujuan mengajak umat untuk kembali memperbaiki ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

“Pada dasarnya di sini adalah mendekatkan diri kepada Allah, membersihkan diri dari dosa dengan bertobat. Terkait kekayaan dan jodoh, itu karena mereka menjadi pribadi yang lebih baik, tenang, dan percaya diri setelah dari sini, sehingga usaha mereka lebih maksimal. Kalau ibadah maksimal, tentu urusan dunia akan dipermudah,” pungkasnya.
×
Berita Terbaru Update