-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Munggahan, Tradisi Turun-Temurun Ini Selalu Hadir Sebelum Ramadan Datang

Senin, 16 Februari 2026 | 14.10 WIB | 0 Views Last Updated 2026-02-17T07:28:02Z
Ilustrasi tradisi munggahan. (Foto: Istimewa)


Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, masyarakat Muslim di berbagai daerah Indonesia memiliki tradisi khas sebagai bentuk persiapan lahir dan batin. Di Tatar Sunda, tradisi tersebut dikenal dengan sebutan Munggahan. Tradisi ini bukan sekadar acara makan bersama, tetapi sarat nilai religius, sosial, dan budaya yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat.
Asal-Usul dan Makna Kata Munggahan

Secara etimologis, kata munggahan berasal dari bahasa Sunda “munggah” atau “unggah” yang berarti “naik”. Maknanya merujuk pada proses “naik” atau berpindah dari bulan Syaban menuju bulan Ramadan. Dalam konteks spiritual, istilah ini dimaknai sebagai upaya meningkatkan kualitas iman dan kesiapan diri dalam menyambut bulan suci.

Dalam kajian budaya Sunda, Munggahan dipahami sebagai bentuk akulturasi antara ajaran Islam dengan tradisi lokal. Islam yang datang ke Nusantara tidak menghapus budaya setempat, melainkan beradaptasi dan mengisinya dengan nilai-nilai keislaman. Tradisi ini menjadi salah satu contoh harmonisasi tersebut.

Waktu Pelaksanaan

Munggahan biasanya dilaksanakan pada akhir bulan Syaban, satu atau dua hari sebelum 1 Ramadan. Waktu ini dipilih karena menjadi momentum terakhir sebelum umat Islam memasuki masa ibadah puasa selama satu bulan penuh.

Di beberapa daerah seperti Kabupaten Cianjur, Bandung, Garut, hingga Tasikmalaya, tradisi ini masih berlangsung secara turun-temurun, baik dalam lingkup keluarga maupun komunitas masyarakat.
Bentuk-Bentuk Pelaksanaan Tradisi Munggahan

Pelaksanaan Munggahan bisa berbeda-beda di setiap daerah, namun secara umum memiliki beberapa bentuk utama:

1. Makan Bersama (Botram)

Salah satu ciri khas Munggahan adalah makan bersama atau dalam istilah Sunda disebut botram. Hidangan yang disajikan biasanya sederhana, seperti nasi liwet, ayam goreng, ikan asin, sambal, lalapan, hingga aneka kue tradisional.

Makna dari makan bersama ini bukan pada kemewahan makanan, melainkan pada kebersamaan dan kehangatan silaturahmi. Dalam suasana santai dan penuh canda, hubungan keluarga dan tetangga semakin erat.

2. Saling Memaafkan

Nilai utama dalam Munggahan adalah saling memaafkan. Tradisi ini menjadi momentum membersihkan hati dari kesalahan dan dendam sebelum memasuki Ramadan. Dalam ajaran Islam, memaafkan sesama menjadi bagian penting dalam membangun ukhuwah dan memperbaiki hubungan sosial.

Banyak keluarga memanfaatkan Munggahan sebagai waktu untuk berkumpul dan menyampaikan permohonan maaf secara langsung kepada orang tua, saudara, maupun kerabat.

3. Doa Bersama

Selain makan bersama, masyarakat juga mengadakan doa bersama. Doa ini dipanjatkan agar diberikan kesehatan, kelancaran ibadah, serta keberkahan selama menjalankan puasa Ramadan. Kegiatan ini biasanya dipimpin oleh tokoh agama atau orang yang dituakan di lingkungan setempat.

4. Ziarah Kubur

Sebagian masyarakat juga melakukan ziarah ke makam keluarga sebelum Ramadan. Tradisi ini dimaknai sebagai bentuk penghormatan kepada orang tua dan leluhur sekaligus refleksi diri tentang kehidupan dan kematian. Ziarah biasanya disertai pembacaan doa dan tahlil.

5. Sedekah dan Berbagi

Di beberapa wilayah, Munggahan juga diisi dengan kegiatan berbagi makanan kepada tetangga atau kaum yang membutuhkan. Hal ini mencerminkan nilai kepedulian sosial yang sejalan dengan semangat Ramadan sebagai bulan berbagi.

Nilai Sosial dan Spiritual dalam Munggahan

Tradisi Munggahan mengandung berbagai nilai penting, di antaranya:

1. Nilai Spiritual

Munggahan menjadi sarana introspeksi diri dan peningkatan kualitas iman sebelum memasuki bulan suci.

2. Nilai Silaturahmi

Tradisi ini memperkuat hubungan keluarga dan masyarakat. Di tengah kesibukan modern, Munggahan menjadi momen berkumpul yang jarang terjadi di hari biasa.

3. Nilai Solidaritas Sosial

Kegiatan berbagi dan makan bersama mencerminkan rasa kebersamaan tanpa memandang status sosial.

4. Pelestarian Budaya Lokal

Munggahan menjadi bagian dari identitas budaya Sunda yang terus dijaga keberlangsungannya dari generasi ke generasi.

Munggahan di Era Modern

Seiring perkembangan zaman, bentuk Munggahan mengalami penyesuaian. Jika dahulu dilakukan secara sederhana di rumah atau saung, kini sebagian masyarakat merayakannya di restoran, tempat wisata, bahkan melalui pertemuan komunitas yang lebih besar.

Meski demikian, esensi Munggahan tetap sama: mempererat silaturahmi dan mempersiapkan diri menyambut Ramadan dengan hati yang bersih.

Di wilayah perkotaan, tradisi ini juga menjadi momentum memperkuat nilai kebersamaan di tengah kehidupan yang semakin individualistik. Bahkan, generasi muda mulai mengemas Munggahan dalam bentuk kegiatan sosial, pengajian kreatif, hingga bakti sosial.

Perspektif Budaya dan Islam Nusantara

Para pemerhati budaya menilai Munggahan sebagai contoh nyata bagaimana Islam di Nusantara berkembang secara damai melalui pendekatan budaya. Tradisi ini menunjukkan bahwa nilai-nilai Islam dapat berjalan selaras dengan adat istiadat setempat selama tidak bertentangan dengan prinsip syariat.

Konsep ini sejalan dengan karakter Islam Nusantara yang dikenal ramah, adaptif, dan menghargai kearifan lokal.

Kesimpulan

Tradisi Munggahan bukan sekadar kegiatan makan bersama menjelang Ramadan. Ia adalah simbol kenaikan spiritual, penguatan silaturahmi, serta pelestarian budaya yang sarat makna.

Di tengah modernisasi dan perubahan sosial, Munggahan tetap relevan sebagai jembatan antara nilai agama dan budaya lokal. Tradisi ini mengajarkan bahwa menyambut Ramadan bukan hanya soal persiapan fisik, tetapi juga kesiapan hati, hubungan sosial yang harmonis, dan semangat berbagi kepada sesama.

Dengan menjaga dan melestarikan Munggahan, masyarakat tidak hanya mempertahankan tradisi, tetapi juga merawat identitas budaya dan nilai-nilai luhur yang menjadi fondasi kehidupan bersama.
×
Berita Terbaru Update