![]() |
| Foto: Ilustrasi |
Tradisi ini bukan bagian dari ritual wajib dalam ajaran Islam, melainkan praktik budaya lokal yang berkembang di tengah masyarakat Muslim Nusantara. Meski demikian, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya—seperti kebersihan, kebersamaan, dan refleksi diri—menjadikan tradisi ini tetap relevan dan dinanti setiap tahunnya.
Makna Filosofis Keramasan Jelang Ramadhan
Secara umum, tradisi keramasan dimaknai sebagai bentuk pembersihan lahir dan batin. Masyarakat meyakini bahwa menyambut Ramadhan bukan hanya soal kesiapan fisik untuk berpuasa, tetapi juga kesiapan mental dan spiritual.
Keramas atau mandi bersama menjadi simbol:
- Penyucian diri secara fisik – Membersihkan tubuh sebelum memasuki bulan ibadah.
- Refleksi spiritual – Menggambarkan tekad untuk meninggalkan kebiasaan buruk.
- Kebersamaan sosial – Dilakukan secara komunal sebagai bentuk mempererat silaturahmi.
- Pelestarian adat – Menjadi identitas budaya yang dijaga lintas generasi.
Dalam perspektif budaya, praktik ini termasuk dalam kategori ‘urf (tradisi lokal) yang tumbuh dari nilai-nilai masyarakat setempat.
Tradisi Keramas Bersama di Sungai Cisadane, Tangerang
Salah satu contoh tradisi keramasan yang masih berlangsung dapat ditemukan di bantaran Sungai Cisadane, tepatnya di wilayah Kota Tangerang.
Setiap menjelang Ramadhan, ratusan warga dari berbagai usia berkumpul di tepi sungai untuk mandi dan keramas bersama. Mereka membawa perlengkapan mandi masing-masing, lalu secara bersama-sama membersihkan diri di aliran sungai.
Tradisi ini tidak hanya menjadi aktivitas simbolik, tetapi juga momentum kebersamaan warga. Anak-anak, orang dewasa, hingga lansia turut serta. Suasana penuh keakraban dan kegembiraan mencerminkan antusiasme masyarakat dalam menyambut bulan suci.
Beberapa tokoh masyarakat setempat bahkan mendorong agar tradisi ini diakui sebagai bagian dari Warisan Budaya Takbenda (WBTb) daerah, mengingat nilai historis dan sosial yang dikandungnya.
Kuramasan di Kampung Adat Miduana, Cianjur
Di wilayah Jawa Barat, tradisi serupa dikenal dengan istilah kuramasan. Tradisi ini masih lestari di Kampung Adat Miduana, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.
Warga berjalan bersama menuju Sungai Cipandak dengan mengenakan pakaian adat Sunda. Setelah doa bersama, mereka mandi dan keramas sebagai simbol membersihkan diri sebelum menjalankan ibadah puasa.
Tradisi ini biasanya diiringi dengan kegiatan budaya seperti kesenian tradisional dan makan bersama. Selain sebagai simbol spiritual, kuramasan juga menjadi sarana mempererat hubungan sosial antarwarga.
Keberadaan tradisi ini menunjukkan kuatnya nilai adat dalam kehidupan masyarakat Sunda, khususnya di pedesaan yang masih menjaga tradisi leluhur.
Tradisi Serupa di Berbagai Daerah
Keramasan jelang Ramadhan bukan hanya terjadi di Tangerang atau Cianjur. Di berbagai wilayah Indonesia, praktik serupa hadir dengan nama dan tata cara berbeda.
1. Padusan (Jawa)
Tradisi Padusan dilakukan dengan mandi di sumber mata air, sungai, atau pemandian umum. Kata “padusan” berasal dari bahasa Jawa yang berarti mandi. Tradisi ini banyak dilakukan di Jawa Tengah dan Yogyakarta sebagai bentuk penyucian diri menjelang Ramadhan.
2. Balimau (Sumatera Barat)
Masyarakat Minangkabau mengenal tradisi Balimau, yaitu mandi menggunakan air yang dicampur perasan jeruk nipis atau limau. Selain bermakna simbolik, limau juga dipercaya memberikan efek menyegarkan dan membersihkan.
3. Marpangir (Sumatera Utara)
Di beberapa daerah Sumatera Utara, dikenal tradisi Marpangir, yakni mandi menggunakan ramuan rempah-rempah tertentu. Tradisi ini mencerminkan perpaduan adat lokal dan nilai religius.
Meski berbeda nama dan tata cara, esensinya tetap sama: menyambut Ramadhan dengan semangat kebersihan dan kebersamaan.
Perspektif Keagamaan
Secara syariat, tidak ada dalil khusus yang mewajibkan mandi atau keramas bersama menjelang Ramadhan. Dalam Islam, yang diwajibkan adalah niat dan kesiapan menjalankan ibadah puasa sesuai ketentuan.
Namun, mandi atau membersihkan diri bukanlah sesuatu yang dilarang. Islam sendiri sangat menekankan pentingnya kebersihan sebagai bagian dari iman. Selama tradisi keramasan tidak mengandung unsur yang bertentangan dengan ajaran agama, praktik tersebut dipandang sebagai budaya lokal yang bersifat sosial, bukan ritual ibadah wajib.
Dengan demikian, tradisi ini berada dalam ranah budaya, bukan kewajiban agama.
Tantangan dan Relevansi di Era Modern
Di tengah modernisasi dan perubahan gaya hidup, sejumlah tradisi lokal mulai ditinggalkan. Namun, keramasan jelang Ramadhan masih bertahan karena memiliki nilai sosial yang kuat.
Meski begitu, pelaksanaannya kini kerap disesuaikan dengan kondisi lingkungan dan kebersihan sungai. Beberapa pemerintah daerah mengimbau agar tradisi tetap menjaga aspek keamanan, kebersihan, serta tidak mencemari lingkungan.
Dalam konteks kekinian, tradisi ini juga menjadi daya tarik wisata budaya dan bahan edukasi tentang kearifan lokal masyarakat Muslim Indonesia.
Kesimpulan
Tradisi keramasan jelang Ramadhan merupakan bagian dari kekayaan budaya Nusantara yang sarat makna. Ia bukan sekadar aktivitas mandi bersama, tetapi simbol kesiapan menyambut bulan suci dengan hati yang bersih dan hubungan sosial yang harmonis.
Dari Sungai Cisadane hingga Kampung Adat Miduana, tradisi ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia memiliki cara khas dalam menggabungkan nilai agama dan budaya.
Di tengah arus modernisasi, pelestarian tradisi keramasan bukan hanya tentang menjaga adat, tetapi juga merawat identitas dan memperkuat solidaritas umat dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan.
.jpg)