-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Ribuan Warga Sukaluyu Cianjur Salat Id Lebih Awal, Berdasarkan Rukyat Global

Jumat, 20 Maret 2026 | 13.26 WIB | 0 Views Last Updated 2026-03-22T06:30:31Z
Foto Tangkapan Layar


Sekitar seribu warga di Kecamatan Sukaluyu, Kabupaten Cianjur, melaksanakan Salat Idulfitri 1447 Hijriah lebih awal pada Kamis (19/3/2026). Pelaksanaannya berbeda dengan mayoritas umat Islam di Indonesia, karena mereka menetapkan 1 Syawal berdasarkan metode rukyat global.

Salat Id berlangsung khidmat dengan diikuti warga dari berbagai wilayah sekitar. Meski digelar lebih awal, suasana tetap penuh kekhusyukan dan kebersamaan layaknya merayakan Idulfitri pada umumnya.

Agus Imbar Sulaiman, Humas sekaligus Ketua Panitia Salat Id Komunitas Rukyat Global Cianjur, menjelaskan bahwa pelaksanaan salat Idulfitri ini memiliki dasar yang jelas.

“Kami mendasarkan hadis Rasulullah SAW yang menyebutkan: 'Shumu li ru'yatihi wa afthiru li ru'yatihi',” ujarnya kepada wartawan.

Dalam pelaksanaannya, salat Idulfitri dipimpin oleh Imam Ustaz Muhsin Ibnu Siradj, sementara khutbah disampaikan oleh Ustaz Akbar W. Tema khutbah yang diangkat yakni “Momentum untuk mewujudkan ketakwaan dan persatuan hakiki di bawah kepemimpinan Islam”, yang pentingnya menjaga ukhuwah di tengah perbedaan.

Agus menambahkan, rukyat global adalah metode penentuan awal Ramadhan dan Idulfitri melalui pengamatan hilal di berbagai negara.

“Jika hilal sudah terlihat di wilayah suatu negara, maka informasi itu bisa digunakan untuk menentukan 1 Syawal atau 1 Ramadhan. Oleh karena itu, kami disebut sebagai Komunitas Rukyat Global,” jelasnya.

Ia mengungkapkan, keputusan pelaksanaan salat Id pada Kamis didasarkan pada informasi yang terlihatnya hilal di Afghanistan. Informasi tersebut telah disetujui oleh pemerintah setempat dan diterima masyarakat pada dini hari.

"Informasi hilal diperoleh dari Afganistan yang telah mendapat izin pemerintah setempat. Komunitas Rukyat Global menerima kabar hilal pada Kamis (19/3) pukul 03.00 WIB. Atas dasar itu, salat Idulfitri pun dilaksanakan pada hari yang sama. Kami memutuskan untuk melaksanakan salat Idulfitri hari ini berdasarkan informasi hilal yang terlihat di Afganistan," ungkap Agus.

Perbedaan metode penentuan awal bulan Hijriah memang sering terjadi di Indonesia, baik melalui rukyat lokal, hisab, maupun rukyat global. Namun demikian, masyarakat di Sukaluyu tetap menjalankan ibadah dengan penuh toleransi dan saling menghormati.

Agus berharap ke depan umat Islam dapat merayakan Idulfitri secara serentak tanpa perbedaan waktu.

“Mudah-mudahan nanti kita bisa merayakan Idulfitri di waktu yang bersamaan,” tutupnya.
×
Berita Terbaru Update