-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tradisi Jelang Lebaran di Tatar Sunda: Sarat Makna, dari Nganteuran hingga Nyekar

Jumat, 20 Maret 2026 | 12.45 WIB | 0 Views Last Updated 2026-03-22T06:07:42Z
Ilustrasi/AI


Menjelang Hari Raya Idul Fitri, masyarakat di wilayah Tatar Sunda memiliki beragam tradisi khas yang masih terus dilestarikan hingga saat ini. Tradisi-tradisi tersebut bukan hanya sekadar kebiasaan turun-temurun, tetapi juga sarat akan nilai sosial, budaya, dan spiritual.

Mulai dari berbagi makanan hingga ziarah kubur, setiap tradisi memiliki makna mendalam yang memperkuat hubungan antar sesama dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.


Nganteuran, Tradisi Berbagi yang Menguatkan Silaturahmi

Salah satu tradisi yang paling dikenal adalah nganteuran, yaitu kebiasaan mengantarkan makanan kepada tetangga atau kerabat. Tradisi ini biasanya dilakukan beberapa hari menjelang Lebaran.

Masyarakat membawa berbagai hidangan khas seperti opor ayam, sambal goreng, hingga kue kering. Dahulu, makanan diantar menggunakan rantang, namun kini banyak yang menggunakan wadah modern.

Nganteuran mencerminkan nilai kebersamaan dan kepedulian sosial yang kuat dalam budaya Sunda.


Nyekar, Mengingat Leluhur dan Makna Kehidupan

Selain itu, masyarakat juga melakukan nyekar atau ziarah kubur. Tradisi ini dilakukan dengan mengunjungi makam keluarga, membersihkan area makam, serta memanjatkan doa.

Nyekar menjadi momen refleksi diri, mengingatkan manusia akan kehidupan setelah mati sekaligus bentuk penghormatan kepada leluhur.


Ngadulag dan Takbir Keliling Meriahkan Malam Lebaran

Suasana menjelang Lebaran semakin terasa dengan adanya tradisi ngadulag, yaitu memukul bedug di masjid atau mushola. Tradisi ini biasanya dilakukan bersamaan dengan takbir keliling.

Warga, terutama anak-anak dan remaja, berkeliling kampung sambil mengumandangkan takbir, menciptakan suasana meriah sekaligus religius.


Sungkeman, Simbol Permohonan Maaf yang Tulus

Dalam lingkup keluarga, tradisi sungkeman juga menjadi bagian penting. Anak-anak akan meminta maaf kepada orang tua sebagai bentuk penghormatan dan bakti.

Momen ini seringkali penuh haru karena menjadi simbol pembersihan hati sebelum menyambut hari kemenangan.


Tradisi yang Menyatukan Nilai Budaya dan Agama

Selain itu, masyarakat Sunda juga mengenal kegiatan silaturahmi dan halal bihalal yang dilakukan sebelum maupun setelah Lebaran. Bahkan di beberapa daerah, ada tradisi unik seperti menerbangkan balon sebagai simbol kegembiraan.

Beragam tradisi ini menunjukkan bahwa masyarakat Sunda mampu memadukan nilai-nilai agama Islam dengan kearifan lokal secara harmonis.


Tetap Relevan di Tengah Modernisasi

Meski zaman terus berkembang, tradisi-tradisi jelang Lebaran di Tatar Sunda tetap bertahan. Hal ini menjadi bukti kuatnya identitas budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Dengan menjaga tradisi, masyarakat tidak hanya merayakan Lebaran, tetapi juga melestarikan nilai luhur yang menjadi jati diri budaya Sunda.
×
Berita Terbaru Update