Jembatan Titian Persatuan Cilojami penghubung Cianjur–Bandung Barat resmi digunakan. Dibangun dari gotong royong warga, akses kini lebih aman dan memu
Jembatan yang diberi nama Titian Persatuan Cilojami (Cilonok–Jamilega) ini merupakan hasil kolaborasi antara warga dengan gerakan sosial Aksi Bersama. Pembangunan jembatan tersebut menjadi solusi atas keterbatasan akses yang selama ini dirasakan ribuan warga di kedua wilayah.
Selama bertahun-tahun, masyarakat setempat bergantung pada jembatan bambu sederhana yang dibangun secara swadaya sejak 2007. Kondisinya yang rentan rusak dan kerap terancam arus sungai membuat aktivitas warga, terutama anak-anak sekolah, menjadi tidak aman.
Kini, jembatan baru dengan panjang sekitar 45 meter dan posisi yang lebih tinggi dari sebelumnya memberikan rasa aman sekaligus memperpendek jarak tempuh masyarakat dalam beraktivitas sehari-hari.
“Kami ikut membangun jembatan ini supaya anak-anak tidak lagi harus berputar jauh untuk berangkat sekolah, lega rasanya ketika jembatan ini selesai. Anak-anak bisa pergi ke sekolah dengan jarak lebih dekat dan aman,” ujar Iis, salah satu warga desa setempat yang aktif dalam proses pembangunan.
Keterlibatan masyarakat menjadi kunci utama dalam pembangunan jembatan ini. Mengusung semangat “Swadaya Sadayana”, seluruh proses dilakukan secara gotong royong, mulai dari pengumpulan material hingga pengerjaan konstruksi. Peran perempuan bahkan disebut sangat signifikan, mulai dari pengangkutan batu pondasi hingga pengambilan keputusan teknis.
Hermawan, warga lainnya, menyampaikan bahwa kondisi jembatan saat ini jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya. “Selisih dari jembatan lama ke yang baru lumayan, jadi lebih tinggi dan lebih aman juga daripada sebelumnya,” ujarnya.
Pembangunan jembatan ini juga tidak terlepas dari pendampingan Teman Aksi Bandung Raya yang terlibat sejak tahap awal. Mereka melakukan survei lokasi, mendampingi warga, serta memastikan proses pembangunan berjalan sesuai rencana.
Selain sebagai akses penghubung, jembatan ini diharapkan mampu meningkatkan mobilitas warga dalam menjangkau fasilitas pendidikan dan aktivitas ekonomi seperti pasar. Ke depan, program pengembangan masyarakat (community development) juga akan dilakukan guna memastikan dampak jangka panjang dari pembangunan ini.
Anies Baswedan dalam keterangannya menyampaikan bahwa pembangunan jembatan ini memiliki makna lebih dari sekadar infrastruktur fisik.
“Jembatan ini bukan hanya sekadar bangunan fisik, dia adalah simbol-simbol penyambung antara niat baik yang sempat terhalang dengan harapan warga yang sempat terhambat sekarang tersambungkan, jadi kita tidak hanya sedang membangun jalan setapak, tapi kita sedang membuka jalan yang lebar untuk masa depan,” ujarnya.
Pembangunan Jembatan Titian Persatuan Cilojami menjadi contoh nyata bahwa kolaborasi antara masyarakat, relawan, dan berbagai pihak dapat menghadirkan perubahan signifikan. Dukungan dari donatur individual serta mitra seperti Yayasan Islamadina dan BSI Maslahat turut mempercepat terwujudnya akses yang lebih layak bagi masyarakat.
Dengan hadirnya jembatan ini, warga kini tidak lagi dihantui rasa khawatir saat menyeberang. Lebih dari itu, jembatan tersebut menjadi simbol kuat bahwa semangat kebersamaan mampu membuka jalan menuju masa depan yang lebih baik.






COMMENTS