Mengenal sejarah lengkap Tugu Lampu Gentur Cianjur, mulai dari asal-usul Lampu Gentur tahun 1820 di Kampung Gentur Warungkondang, Kota Cianjur.
Asal-Usul Lampu Gentur: Cahaya dari Kampung Gentur
Nama “Lampu Gentur” berasal dari dua kata: Lampu (alat penerang) dan Gentur, nama kampung di Desa Jambudipa, Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur. Kampung ini merupakan tempat lahirnya kerajinan tersebut.
Menurut catatan sejarah, Lampu Gentur pertama kali dibuat sekitar tahun 1820 oleh Bapak Mus’in. Awalnya berupa lentera sederhana dari kaleng bekas (seperti kaleng susu) dan kaca, menggunakan minyak tanah sebagai bahan bakar. Fungsi utamanya adalah menerangi jalan para santri yang pulang mengaji di malam hari, ketika penerangan umum masih sangat minim.
Ada pula versi yang menyebutkan peran guru ngaji sekitar tahun 1965 yang memodifikasi lampu cempor agar lebih tahan angin. Generasi berikutnya, seperti Bapak Uni dan Bapak Enang, mengembangkan bahan menjadi kuningan berkualitas tinggi dengan kaca bertekstur, sehingga lampu ini tidak hanya berfungsi sebagai penerang tetapi juga karya seni bernilai tinggi.
Seiring waktu, Lampu Gentur berkembang menjadi kerajinan tangan khas Cianjur yang diekspor ke berbagai negara. Desainnya semakin beragam, mulai dari motif geometris, bunga, hingga bentuk limas dan prisma, semuanya tetap dibuat secara manual oleh para pengrajin di Kampung Gentur.
Lahirnya Tugu Lampu Gentur sebagai Ikon Kota
Sebelum ada Tugu Lampu Gentur, lokasi bundaran simpang empat (Jl. Ir. H. Juanda – Dr. Muwardi – KH. Abdullah bin Nuh) dikenal dengan Tugu Mamaos atau tugu sederhana lainnya. Pemerintah Kabupaten Cianjur kemudian membangun Tugu Lampu Gentur sebagai bentuk pelestarian warisan budaya dan penguatan identitas kota.
Tugu ini diresmikan pada malam Takbir Idul Fitri tahun 2017. Strukturnya dirancang dengan susunan ornamen Lampu Gentur asli, dilengkapi elemen kaligrafi, menjadikannya simbol “cahaya ilmu” yang selaras dengan julukan Cianjur sebagai Kota Santri. Tugu ini sekaligus menjadi bagian dari trio ikon bersama Tugu Tauco dan Tugu Pandanwangi.
Penataan dan Wajah Baru Tugu (2025–2026)
Memasuki akhir tahun 2025, Pemkab Cianjur melakukan penataan ulang kawasan Tugu Lampu Gentur dengan anggaran sekitar Rp200 juta. Penataan mencakup penambahan kolam air mancur, rumput sintetis, perbaikan pencahayaan, dan lansekap yang lebih estetik tanpa mengubah struktur utama tugu.
Pada awal 2026, dilakukan beberapa kali perbaikan jalan di bundaran akibat faktor cuaca, menggunakan metode betonisasi agar lebih kuat dan tahan lama. Hingga Mei 2026, Tugu Lampu Gentur tampil dengan wajah baru yang lebih cantik, menjadi spot foto favorit wisatawan dan warga, terutama di malam hari saat lampu-lampunya menyala terang.
Makna dan Nilai Budaya
Tugu Lampu Gentur bukan sekadar landmark lalu lintas. Ia merepresentasikan:
- Tradisi pesantren dan semangat mencari ilmu
- Pelestarian kerajinan tangan lokal
- Identitas “Kota Santri” Cianjur
- Dukungan ekonomi bagi ratusan pengrajin di Warungkondang
Sebagai Warisan Budaya Takbenda, Lampu Gentur dan Tugu-nya terus dijaga agar warisan leluhur ini tetap menyala dan dikenal generasi mendatang.
Lokasi Tugu Lampu Gentur
Bundaran Simpang Empat, Jl. Dr. Muwardi / KH. Abdullah bin Nuh, Kelurahan Bojongherang, Kecamatan Cianjur, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.
Jika Anda melewati Cianjur, singgahlah sejenak di tugu ini. Nikmati keindahannya sambil mengenang perjalanan panjang sebuah lentera sederhana yang kini menjadi kebanggaan daerah.
Sumber Referensi:
- Cianjurpedia (Pikiran Rakyat) – Mengenal Lampu Gentur (2025)
- Radar Cianjur – Sejarah Lampu Gentur
- Viva Cianjur – Asal Muasal Lampu Gentur (2023)
- Disbudpar Kabupaten Cianjur (situs resmi dan media sosial)
- Cianjur Ekspres & Info Cianjurku (berita renovasi dan kondisi terkini 2025-2026)
- RRI.co.id – Pesona Tugu Lampu Gentur (2026)
- Dokumen sejarah dan catatan Kemdikbud terkait Warisan Budaya Takbenda

COMMENTS