Jalan Jajan Cianjur, kuliner Cianjur murah, bubur ayam 5 ribu Cianjur, trotoar Dr Muwardi Cianjur, Alun-Alun Cianjur, kupat tahu Singaparna, wisata ku

CIANJUR – Suasana Minggu pagi di Cianjur selalu punya cerita. Udara yang masih segar, aktivitas warga yang mulai menggeliat, hingga deretan kuliner kaki lima yang menggoda, menjadi kombinasi sempurna untuk memulai hari. Tim Jalan Jajan kali ini menyusuri rute klasik di pusat kota, mulai dari sarapan sederhana hingga berakhir dengan kuliner khas yang menggugah selera.
Sarapan Hemat: Bubur Ayam Rp5 Ribuan yang Mengenyangkan
Perjalanan dimulai dengan mencicipi bubur ayam legendaris dengan harga super terjangkau, hanya Rp5.000 per porsi. Meski murah, rasa yang ditawarkan tidak murahan. Tekstur buburnya lembut dengan topping sederhana namun pas di lidah, cocok jadi pilihan sarapan warga yang ingin hemat tanpa mengorbankan rasa.
Menyusuri Jl. Dr. Muwardi: Udara Segar, Trotoar Memprihatinkan
Usai sarapan, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menyusuri Jalan Dr. Muwardi. Udara pagi yang sejuk membuat langkah terasa ringan. Namun, kondisi trotoar di jalur ini cukup memprihatinkan.
Beberapa bagian terlihat rusak, bahkan terdapat titik saluran air yang terbuka. Kondisi ini tentu berpotensi membahayakan pejalan kaki, terutama saat malam hari dengan pencahayaan terbatas. Perhatian serius dari pihak terkait sangat dibutuhkan agar jalur pedestrian lebih aman dan nyaman.
Melintas di Tugu Tauco
Perjalanan berlanjut melewati Tugu Tauco, ikon khas yang menjadi kebanggaan warga Cianjur. Tugu ini tidak hanya menjadi penanda kota, tetapi juga simbol kuliner legendaris tauco yang sudah dikenal luas.
Napak Tilas Pasar Muka hingga Taman Kota
Langkah kaki membawa perjalanan menuju kawasan Pasar Muka, yang dahulu pernah menjadi lokasi pusat perbelanjaan Ramayana. Meski kini wajahnya berubah, kawasan ini tetap ramai oleh aktivitas warga di pagi hari.
Tak jauh dari sana, perjalanan melewati Taman Kota Cianjur, yang dulunya merupakan terminal bus. Kini, area ini menjadi ruang terbuka yang dimanfaatkan masyarakat untuk beraktivitas santai.
Rute Menuju Alun-Alun Cianjur
Perjalanan dilanjutkan dengan berbelok ke Jalan Arif Rahman Hakim, jalur yang jika lurus mengarah ke Sukabumi, kemudian berlanjut ke Jalan KH Hasyim Ashari hingga akhirnya tiba di Alun-Alun Cianjur.
Kupat Tahu Singaparna
Setelah menikmati suasana alun-alun, perjalanan ditutup dengan berburu kuliner. Pilihan jatuh pada kupat tahu khas Singaparna yang terkenal dengan bumbu kacangnya yang gurih dan khas.
Seperti tradisi Jalan Jajan, makanan tidak langsung disantap di lokasi, melainkan dibungkus untuk dinikmati bersama keluarga di rumah, memberi sentuhan hangat di akhir perjalanan.
Perjalanan Minggu pagi di Cianjur bukan hanya soal kuliner, tetapi juga tentang menikmati suasana kota, melihat aktivitas masyarakat, hingga merasakan denyut kehidupan lokal.
Namun di balik keindahan pagi, ada catatan penting terkait fasilitas publik seperti trotoar yang perlu perhatian serius. Harapannya, ke depan Cianjur bisa semakin ramah bagi pejalan kaki, sehingga pengalaman Jalan Jajan menjadi lebih nyaman dan aman.
Sarapan Hemat: Bubur Ayam Rp5 Ribuan yang Mengenyangkan
Perjalanan dimulai dengan mencicipi bubur ayam legendaris dengan harga super terjangkau, hanya Rp5.000 per porsi. Meski murah, rasa yang ditawarkan tidak murahan. Tekstur buburnya lembut dengan topping sederhana namun pas di lidah, cocok jadi pilihan sarapan warga yang ingin hemat tanpa mengorbankan rasa.
Menyusuri Jl. Dr. Muwardi: Udara Segar, Trotoar Memprihatinkan
Usai sarapan, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menyusuri Jalan Dr. Muwardi. Udara pagi yang sejuk membuat langkah terasa ringan. Namun, kondisi trotoar di jalur ini cukup memprihatinkan.
Beberapa bagian terlihat rusak, bahkan terdapat titik saluran air yang terbuka. Kondisi ini tentu berpotensi membahayakan pejalan kaki, terutama saat malam hari dengan pencahayaan terbatas. Perhatian serius dari pihak terkait sangat dibutuhkan agar jalur pedestrian lebih aman dan nyaman.
Melintas di Tugu Tauco
Perjalanan berlanjut melewati Tugu Tauco, ikon khas yang menjadi kebanggaan warga Cianjur. Tugu ini tidak hanya menjadi penanda kota, tetapi juga simbol kuliner legendaris tauco yang sudah dikenal luas.
Napak Tilas Pasar Muka hingga Taman Kota
Langkah kaki membawa perjalanan menuju kawasan Pasar Muka, yang dahulu pernah menjadi lokasi pusat perbelanjaan Ramayana. Meski kini wajahnya berubah, kawasan ini tetap ramai oleh aktivitas warga di pagi hari.
Tak jauh dari sana, perjalanan melewati Taman Kota Cianjur, yang dulunya merupakan terminal bus. Kini, area ini menjadi ruang terbuka yang dimanfaatkan masyarakat untuk beraktivitas santai.
Rute Menuju Alun-Alun Cianjur
Perjalanan dilanjutkan dengan berbelok ke Jalan Arif Rahman Hakim, jalur yang jika lurus mengarah ke Sukabumi, kemudian berlanjut ke Jalan KH Hasyim Ashari hingga akhirnya tiba di Alun-Alun Cianjur.
Event Seru dan Layanan Kesehatan Gratis
Setibanya di Alun-Alun, suasana terlihat sangat ramai. Ternyata, sedang berlangsung kegiatan dari Yayasan Jantung Indonesia Cabang Cianjur.
Ratusan peserta, mayoritas ibu-ibu, memadati area dengan mengenakan kostum merah putih. Di tengah keramaian, terlihat sekelompok peserta mengikuti lomba menari yang disambut antusias oleh pengunjung lainnya.
Menariknya, kegiatan ini juga menyediakan layanan kesehatan gratis bagi masyarakat, menjadikannya tidak hanya hiburan, tetapi juga bermanfaat bagi kesehatan warga.
Setibanya di Alun-Alun, suasana terlihat sangat ramai. Ternyata, sedang berlangsung kegiatan dari Yayasan Jantung Indonesia Cabang Cianjur.
Ratusan peserta, mayoritas ibu-ibu, memadati area dengan mengenakan kostum merah putih. Di tengah keramaian, terlihat sekelompok peserta mengikuti lomba menari yang disambut antusias oleh pengunjung lainnya.
Menariknya, kegiatan ini juga menyediakan layanan kesehatan gratis bagi masyarakat, menjadikannya tidak hanya hiburan, tetapi juga bermanfaat bagi kesehatan warga.
Kupat Tahu Singaparna
Setelah menikmati suasana alun-alun, perjalanan ditutup dengan berburu kuliner. Pilihan jatuh pada kupat tahu khas Singaparna yang terkenal dengan bumbu kacangnya yang gurih dan khas.
Seperti tradisi Jalan Jajan, makanan tidak langsung disantap di lokasi, melainkan dibungkus untuk dinikmati bersama keluarga di rumah, memberi sentuhan hangat di akhir perjalanan.
Perjalanan Minggu pagi di Cianjur bukan hanya soal kuliner, tetapi juga tentang menikmati suasana kota, melihat aktivitas masyarakat, hingga merasakan denyut kehidupan lokal.
Namun di balik keindahan pagi, ada catatan penting terkait fasilitas publik seperti trotoar yang perlu perhatian serius. Harapannya, ke depan Cianjur bisa semakin ramah bagi pejalan kaki, sehingga pengalaman Jalan Jajan menjadi lebih nyaman dan aman.
COMMENTS