Ratusan mahasiswa Cianjur berunjuk rasa menuntut evaluasi Program MBG, menyoroti ekonomi nasional, dan sempat menutup Jalur Puncak.
Aksi diawali dengan longmarch dari salah satu kampus yang berada di kawasan Jalan Pasir Gede Raya. Massa kemudian bergerak menuju Bundaran Tugu Lampu Gentur dan tiba di lokasi sekitar pukul 14.00 WIB.
Setelah berkumpul di titik aksi, para mahasiswa secara bergantian menyampaikan orasi di hadapan peserta aksi dan pengguna jalan. Mereka membawa sejumlah tuntutan yang dianggap berkaitan langsung dengan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat saat ini.
Situasi sempat memanas ketika massa aksi berupaya menutup akses Jalan Raya Cianjur-Puncak sebagai bentuk tekanan agar tuntutan mereka mendapat perhatian dari pemerintah. Meski sempat mendapat larangan dari petugas kepolisian dan Satpol PP yang melakukan pengamanan, mahasiswa akhirnya menutup sementara jalur tersebut.
Penutupan jalan mengakibatkan arus lalu lintas dari arah Cianjur menuju kawasan Puncak maupun sebaliknya terhenti untuk beberapa saat. Kondisi tersebut menyebabkan antrean kendaraan mengular di sejumlah ruas jalan, di antaranya Jalan KH Abdullah bin Nuh dan Jalan Ir H Juanda.
Koordinator aksi, Irsan, mengatakan bahwa demonstrasi tersebut merupakan bentuk kepedulian mahasiswa terhadap berbagai persoalan yang tengah dihadapi masyarakat.
Menurutnya, sejumlah kebijakan pemerintah perlu dievaluasi karena dinilai belum memberikan dampak positif yang dirasakan langsung oleh rakyat.
"Ada lima hal yang kami soroti, mulai dari pemborosan anggaran yang tidak pro rakyat, program MBG dan KDMP yang perlu dievaluasi total, hingga melemahnya ekonomi," ujar dia, Rabu (17/6/2026).
Irsan menilai pemerintah harus bertanggung jawab terhadap berbagai persoalan yang saat ini dirasakan masyarakat, terutama terkait kondisi ekonomi yang dinilai semakin berat.
"Pemerintah harus tanggungjawab. Karena dampak dari program yang dipaksakan dan ketidakmampuan membuat program tak pro rakyat, terjadinya krisis ekonomi, serta masyarakat susah," kata dia.
Selain menyampaikan tuntutan kepada pemerintah pusat, mahasiswa juga meminta Pemerintah Kabupaten Cianjur turut menyuarakan aspirasi tersebut. Mereka berharap pemerintah daerah dapat menjadi penghubung antara masyarakat dan pemerintah pusat terkait berbagai persoalan yang disampaikan dalam aksi.
Irsan menegaskan bahwa massa aksi siap melakukan langkah lanjutan apabila tidak mendapatkan respons dari pemerintah daerah.
"Jika dari Pemkab Cianjur tidak menemui kami. Maka akan kami tutup kembali jalan," tuturnya.
Sementara itu, perwakilan mahasiswa lainnya, Agus Rama, menilai tuntutan terkait evaluasi Program Makan Bergizi Gratis dan perbaikan kondisi ekonomi memiliki dasar yang kuat. Menurutnya, pelaksanaan program tersebut masih menyisakan sejumlah persoalan yang perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah.
"Belum lama ini kios di Jalur Puncak ditertibkan dengan alasan tak berizin. Tapi ketika ratusan dapur MBG tak kantongi izin, kenapa dibiarkan tidak ditertibkan juga. Dimana keadilannya," tegasnya.
Selain menyoroti pelaksanaan MBG, mahasiswa juga menyinggung kondisi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang dinilai masih menunjukkan tantangan bagi perekonomian nasional.
Menurut Agus, pemerintah perlu mengambil langkah konkret guna menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat.
"Saat ini rupiah masih sangat lemah dibandingkan dolar. Ini bukti lemahnya dsn tidak stabilnya ekonomi. Yang sudah tentu masyarakat. Kami menuntut ada kebijakan untuk menyetabilkan kembali ekonomi," pungkasnya.
Aksi unjuk rasa berlangsung di bawah pengawalan aparat kepolisian dan Satpol PP. Setelah rangkaian demonstrasi selesai, situasi di sekitar lokasi berangsur kondusif. Arus lalu lintas yang sebelumnya sempat tersendat kembali normal dan dapat dilalui kendaraan dari kedua arah.

COMMENTS