KDM ajak Cianjur membangun daerah berbasis budaya Sunda, pelestarian alam, dan pembangunan yang berpihak kepada masyarakat.
Di hadapan Bupati Cianjur, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), anggota DPRD, jajaran perangkat daerah, dan para tamu undangan, KDM mengajak seluruh pemimpin menjadikan pembangunan tidak semata diukur dari banyaknya proyek infrastruktur, tetapi juga dari keberhasilan menjaga identitas budaya dan kelestarian alam.
Menurutnya, pembangunan yang berkelanjutan harus berjalan seiring antara aspek yang dapat dilihat secara nyata dengan nilai-nilai yang dirasakan dalam kehidupan masyarakat.
Dua Pilar Pembangunan Seorang Pemimpin
Dalam pidatonya, Kang Dedi Mulyadi menjelaskan bahwa seorang pemimpin memiliki tanggung jawab membangun dua dimensi sekaligus, yakni pembangunan yang bersifat fisik (karampa) dan pembangunan yang menyentuh sisi batin atau spiritual (karasa).
Ia menjelaskan bahwa pembangunan fisik memiliki ukuran yang jelas melalui kebijakan anggaran dan efektivitas belanja pemerintah.
“Pembangunan fisik itu mekanikal, ukurannya adalah anggaran. Rumusnya gampang, tinggal pangkas anggaran perjalanan dinas, seminar, dan seremonial yang tidak perlu, lalu fokuskan seluruhnya untuk kinerja pelayanan rakyat mulai dari perbaikan jalan, sekolah, hingga irigasi,” ujar KDM.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga memberikan apresiasi terhadap sejumlah pembangunan infrastruktur di Kabupaten Cianjur yang mulai memberikan dampak bagi masyarakat, salah satunya pembangunan jalan beton di kawasan Cikadu yang dinilai meningkatkan aksesibilitas warga.
Spiritualitas dan Budaya Sunda Harus Menjadi Fondasi
Selain pembangunan fisik, KDM menilai aspek spiritual dan kebudayaan tidak boleh ditinggalkan. Ia menekankan bahwa masyarakat Sunda memiliki filosofi kehidupan yang erat dengan keseimbangan alam.
Dalam pandangannya, Cianjur memiliki kekuatan simbolik melalui keberadaan wilayah laut di bagian selatan serta kawasan pegunungan dan hutan yang menjadi penyangga kehidupan.
Keseimbangan tersebut, menurutnya, harus dijaga sebagai bagian dari identitas masyarakat Sunda.
Ingatkan Pentingnya Menjaga Laut dan Hutan
Dalam pidatonya, Kang Dedi Mulyadi mengajak seluruh pemimpin daerah untuk tidak menjadikan sumber daya alam sebagai objek eksploitasi demi kepentingan ekonomi jangka pendek.
Ia mengingatkan bahwa keberlanjutan lingkungan merupakan warisan penting bagi generasi mendatang.
“Menikah dengan laut artinya pemimpin dan rakyat harus menyatu dengan alam, tidak boleh merusak mangrove, mengeksploitasi pasir secara berlebihan, ataupun menghancurkan sagara demi kepentingan ekonomi sesaat. Pemimpin yang merusak alamnya sendiri demi uang adalah pemimpin yang keliru,” tegas Kang Dedi.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa pembangunan ekonomi perlu berjalan beriringan dengan upaya konservasi lingkungan agar keseimbangan ekosistem tetap terjaga.
Soroti Ancaman Lost Generation
Dalam pidato kebudayaannya, KDM juga menyoroti tantangan sosial yang dihadapi generasi muda saat ini.
Ia mengingatkan adanya ancaman lost generation yang dipengaruhi berbagai persoalan, mulai dari maraknya praktik judi online, pinjaman online, hingga menurunnya kualitas interaksi sosial anak akibat penggunaan gawai secara berlebihan.
Menurutnya, persoalan tersebut membutuhkan perhatian serius dari seluruh pemangku kepentingan, tidak hanya pemerintah, tetapi juga keluarga dan masyarakat.
Anggaran Harus Berdampak Nyata bagi Rakyat
Kang Dedi Mulyadi turut mengajak pemerintah daerah untuk mengubah paradigma dalam penyelenggaraan pemerintahan.
Ia menilai keberhasilan sebuah daerah tidak hanya diukur melalui capaian administratif maupun penghargaan tata kelola keuangan, melainkan dari manfaat nyata yang dirasakan masyarakat.
Karena itu, ia mendorong agar setiap rupiah anggaran daerah benar-benar diarahkan untuk meningkatkan pelayanan publik dan kesejahteraan masyarakat.
Dorong Pendidikan Berkualitas dan Kemandirian Perempuan
Dalam kesempatan tersebut, KDM juga menyampaikan harapannya agar Kabupaten Cianjur mampu membangun citra baru melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Ia mendorong pemerintah daerah menghadirkan pendidikan gratis yang berkualitas, disertai penguatan pelatihan keterampilan dan penguasaan bahasa asing sebagai bekal menghadapi persaingan global.
Menurutnya, langkah tersebut akan melahirkan generasi muda, termasuk perempuan-perempuan Cianjur, yang mandiri, berdaya saing, dan mampu memberikan kontribusi bagi pembangunan daerah.
Momentum Hari Jadi untuk Membangun Peradaban
Peringatan Hari Jadi Kabupaten Cianjur ke-349 tidak hanya menjadi ajang refleksi perjalanan sejarah daerah, tetapi juga momentum memperkuat arah pembangunan yang berpijak pada nilai budaya, kelestarian lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat.
Melalui pesan-pesan yang disampaikan Kang Dedi Mulyadi, diharapkan seluruh unsur pemerintah daerah, DPRD, Forkopimda, serta masyarakat dapat bersinergi mewujudkan Cianjur yang berkembang secara fisik tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya dan keseimbangan alam.
Visi tersebut sejalan dengan harapan untuk menghadirkan Kabupaten Cianjur yang gemah ripah, repeh rapih, ngahenang, ngahening—aman, damai, tenteram, dan sejahtera bagi seluruh masyarakat.
.jpg)
COMMENTS