Harga masker dilaporkan melonjak setelah abu vulkanik Anak Krakatau menyebar. Pemerintah diminta memastikan stok dan harga tetap wajar.
Keluhan mengenai kenaikan harga muncul di tengah imbauan pemerintah agar masyarakat di wilayah terdampak mengurangi aktivitas di luar rumah. Jika harus keluar, warga diminta menggunakan masker untuk mengurangi risiko paparan abu vulkanik.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sebelumnya menyampaikan bahwa abu vulkanik dapat berdampak terhadap saluran pernapasan, mata, dan kulit. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin pada Minggu (6/9/2026) meminta masyarakat tidak panik dan sebisa mungkin tetap berada di dalam rumah.
Namun, bagi warga yang harus beraktivitas di luar ruangan, penggunaan masker menjadi salah satu langkah perlindungan yang dianjurkan.
Harga masker dilaporkan naik
Di tengah meningkatnya permintaan, sejumlah konsumen mengaku menemukan perubahan harga masker yang cukup drastis, khususnya untuk jenis respirator seperti KN95 dan KF95.
Salah satu laporan datang dari Tamara, warga Depok. Kepada detikcom, ia mengaku membeli masker KN95 melalui toko daring. Pesanan yang sebelumnya sudah di-checkout kemudian dibatalkan penjual.
Menurut Tamara, harga masker yang semula Rp1.650 per buah berubah menjadi Rp16.500 per buah setelah pesanan dibatalkan. Dengan demikian, harga yang ia temukan tersebut meningkat sekitar sepuluh kali lipat.
Meski demikian, Tamara masih menemukan penjual lain yang menawarkan harga lebih rendah. Ia kemudian membeli masker dari toko berbeda dengan harga Rp17.000 per kemasan isi 10 dan membeli masker cadangan di minimarket dengan harga Rp11.700 per kemasan isi lima.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa harga masker tidak seragam di semua tempat. Karena itu, angka kenaikan hingga 10 kali lipat tersebut tidak dapat digeneralisasi sebagai kenaikan harga seluruh masker atau seluruh wilayah.
Laporan lain juga menunjukkan adanya perubahan harga pada sejumlah masker di pasar. Suara.com, misalnya, melaporkan keterangan pedagang yang menyebut masker standar dalam kemasan yang sebelumnya dijual sekitar Rp15.000 mengalami kenaikan menjadi sekitar Rp30.000.
Untuk masker hijab tiga lapis, harga yang sebelumnya sekitar Rp15.000 dilaporkan naik menjadi Rp25.000, sedangkan varian empat lapis mencapai sekitar Rp30.000 per kemasan. Pedagang yang diwawancarai menyebut kenaikan pasokan dari distributor menjadi salah satu faktor perubahan harga tersebut.
Stok di sejumlah lokasi ikut menipis
Selain harga, persoalan lain yang muncul adalah ketersediaan masker.
Di sejumlah minimarket dan apotek di Bekasi, misalnya, stok masker dilaporkan menipis bahkan habis setelah warga melakukan pembelian dalam jumlah besar.
Salah satu apotek yang ditemui detikcom menyebut berbagai varian masker telah habis. Di lokasi lain, yang tersisa hanya masker medis tiga lapis sebanyak dua kotak dengan harga Rp21.000 per kotak.
Kelangkaan juga dilaporkan terjadi di sejumlah minimarket. Masker yang tersisa antara lain jenis tertentu dalam kemasan kecil, masker duckbill, dan masker kain nonmedis.
Sejumlah penjaga toko menyebut masker banyak dibeli untuk kebutuhan anak sekolah. Kondisi tersebut kemudian memunculkan dugaan terjadinya panic buying, yakni pembelian dalam jumlah besar karena kekhawatiran barang sulit diperoleh.
Situasi tersebut penting dicermati karena lonjakan permintaan dalam waktu singkat dapat memengaruhi ketersediaan barang dan harga di tingkat konsumen.
DPR soroti kenaikan harga
Kenaikan harga masker mendapat perhatian dari DPR.
Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Yahya Zaini meminta pemerintah melakukan intervensi terhadap harga masker yang disebut melonjak di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat akibat sebaran abu vulkanik.
Yahya mengatakan terdapat laporan mengenai masker tertentu yang harganya naik hingga 10 kali lipat. Ia meminta kondisi tersebut tidak dimanfaatkan pihak tertentu untuk memperoleh keuntungan berlebihan dari kebutuhan masyarakat.
Menurutnya, pemerintah juga perlu memastikan ketersediaan masker yang memadai di wilayah terdampak. Bahkan, ia mendorong agar masker dapat dibagikan secara gratis di wilayah dengan dampak abu vulkanik paling berat.
Namun, laporan mengenai kenaikan hingga 10 kali lipat tersebut perlu ditempatkan secara proporsional. Angka tersebut berasal dari laporan kasus tertentu dan belum dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa seluruh harga masker di pasaran mengalami kenaikan dengan besaran yang sama.
Imbauan penggunaan masker meningkatkan permintaan
Kenaikan kebutuhan masker tidak terlepas dari kondisi abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang menyebar ke sejumlah wilayah.
Kemenkes menyebut abu vulkanik akibat erupsi Anak Krakatau telah berdampak terhadap wilayah Lampung, Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat.
Dalam imbauannya, Menkes Budi Gunadi Sadikin meminta masyarakat membatasi aktivitas di luar rumah. Apabila harus keluar, masyarakat diminta menggunakan masker dan kacamata.
Kemenkes menyebut kelompok anak-anak, lanjut usia, serta masyarakat dengan penyakit pernapasan dan kardiovaskular kronis termasuk kelompok yang lebih rentan terhadap dampak paparan abu vulkanik.
Pada 7 September 2026, Kemenkes juga menyatakan telah meningkatkan kesiapsiagaan kesehatan dengan menyiagakan 413 rumah sakit dan 830 puskesmas di 20 kabupaten/kota terdampak. Wilayah terdampak abu vulkanik diperkirakan mencakup sekitar 23,36 juta jiwa.
N95 dan KN95 menjadi perhatian
Jenis masker respirator seperti N95 dan KN95 menjadi salah satu produk yang banyak dicari karena kemampuannya memberikan perlindungan lebih baik terhadap partikel di udara apabila digunakan dengan benar dan memiliki fit yang sesuai.
Kemenkes kemudian menegaskan bahwa masyarakat yang harus berada di luar ruangan saat terjadi hujan abu vulkanik dapat menggunakan masker respirator seperti N95, KN95, KF94, FFP2 atau yang setara.
Jika masker respirator tersebut belum tersedia, masker medis dapat digunakan sebagai perlindungan sementara.
Kemenkes juga mengingatkan masyarakat agar tidak mengikuti informasi yang tidak teruji, termasuk anjuran membasahi masker untuk meningkatkan kemampuan penyaringan abu.
Cara tersebut tidak direkomendasikan. Perlindungan masker sangat dipengaruhi oleh jenis masker dan seberapa rapat masker menempel pada wajah.
Jangan sampai kebutuhan kesehatan menjadi celah keuntungan berlebihan
Kondisi kenaikan harga masker perlu dilihat dari dua sisi.
Di satu sisi, meningkatnya permintaan dalam waktu singkat memang dapat memengaruhi harga pasokan dan ketersediaan barang. Hal tersebut terlihat dari laporan pedagang yang menyebut adanya kenaikan harga dari distributor.
Di sisi lain, jika ditemukan penjual yang secara sengaja menaikkan harga secara tidak wajar ketika masyarakat berada dalam situasi membutuhkan perlindungan kesehatan, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian pemerintah dan otoritas terkait.
Namun, sampai adanya hasil pemeriksaan resmi, tuduhan mengenai penimbunan, manipulasi pasokan, atau praktik perdagangan tertentu tidak semestinya langsung dinyatakan sebagai fakta.
Yang sudah terverifikasi adalah adanya laporan konsumen mengenai kenaikan harga pada produk tertentu, adanya kenaikan harga pada sejumlah jenis masker berdasarkan keterangan pedagang, serta penurunan stok di beberapa lokasi penjualan.
Karena itu, pemantauan harga dan ketersediaan menjadi penting agar masyarakat tetap dapat memperoleh alat pelindung pernapasan dengan harga yang wajar.
Masyarakat diminta tidak panik
Di tengah situasi tersebut, masyarakat juga diimbau tidak melakukan pembelian berlebihan.
Pembelian dalam jumlah besar dapat mempercepat habisnya stok di tingkat ritel dan berpotensi membuat konsumen lain kesulitan mendapatkan masker.
Kemenkes sendiri meminta masyarakat tidak panik menghadapi sebaran abu vulkanik. Warga yang tidak memiliki keperluan mendesak dianjurkan tetap berada di dalam rumah.
Sementara bagi warga yang harus keluar, perlindungan diri perlu dilakukan sesuai rekomendasi kesehatan.
Selain masker, Kemenkes juga mengingatkan pentingnya perlindungan mata menggunakan kacamata. Apabila abu masuk ke mata, masyarakat diminta tidak menguceknya, melainkan membersihkannya dengan air dan mencari pertolongan medis apabila diperlukan.
Pada saat membersihkan abu vulkanik yang sudah mengendap, masyarakat juga perlu berhati-hati. Kemenkes menyebut abu vulkanik memiliki karakter berbeda dari debu biasa karena mengandung partikel silika yang tajam dan bersifat asam. Untuk proses pembersihan, Kemenkes merekomendasikan penggunaan masker N95 atau KN95, kacamata pelindung, sarung tangan, serta pakaian lengan panjang.
Dengan kebutuhan masker yang meningkat, perhatian kini tidak hanya tertuju pada dampak kesehatan akibat abu vulkanik, tetapi juga pada kemampuan masyarakat memperoleh perlindungan tersebut dengan harga yang terjangkau.
Pemerintah diharapkan memastikan rantai pasok tetap berjalan, stok tersedia, dan harga berada dalam kondisi wajar, sementara masyarakat diminta tetap tenang serta mengikuti informasi resmi dari pemerintah dan instansi terkait.
.png)
COMMENTS