-->

Notification

×

Iklan

Iklan

120 Hektar Sawah di Ciranjang Cianjur Gagal Panen, Dinas Pertanian Lakukan Pendataan

Senin, 19 Januari 2026 | 21.27 WIB | 0 Views Last Updated 2026-01-20T14:50:07Z
Ratusan hektar tanaman padi petani di Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, diserang hama pengerat dan burung sehingga gagal panen.ANTARA/Ahmad Fikri.


Dinas Pertanian Tanaman Pangan Hortikultura Perkebunan dan Ketahanan Pangan (DTPHPKP) Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, tengah melakukan pendataan terhadap gagal panen yang menimpa sekitar 120 hektar lahan pertanian di Kecamatan Ciranjang. Pendataan ini dilakukan untuk mengetahui penyebab utama serta menentukan langkah penanganan yang tepat bagi para petani terdampak.

Kepala DTPHPKP Cianjur, Ahmad Danial, mengatakan pihaknya telah menginstruksikan penyuluh pertanian serta petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) untuk segera turun ke lapangan. Mereka ditugaskan mendata luasan lahan yang mengalami gagal panen sekaligus memeriksa kepesertaan petani dalam program asuransi pertanian.

"Setelah mendapatkan data pasti mengenai luas lahan yang terserang hama dan mengetahui berapa banyak petani yang ikut asuransi, kami akan mencari solusi," ujar Ahmad di Cianjur, Senin.

Ia menambahkan, selama ini penyuluh dan petugas POPT secara rutin melakukan pendampingan kepada petani, khususnya dalam menghadapi serangan hama dan penyakit tanaman. Evaluasi terus dilakukan agar pendampingan di seluruh wilayah Kabupaten Cianjur dapat berjalan lebih efektif.

Berdasarkan informasi di lapangan, ratusan hektar sawah di Desa Nanggalamekar, Kecamatan Ciranjang, mengalami gagal panen akibat serangan hama burung pipit serta penyakit tanaman padi. Serangan tersebut mulai terjadi ketika tanaman padi berusia sekitar 45 hari.

Salah seorang petani di Kampung Pasirangin, Teten (51), mengungkapkan kerugian besar yang dialaminya. Dari lahan seluas satu hektar yang biasanya mampu menghasilkan tujuh hingga delapan ton gabah, kini sebagian besar tanaman padinya mati akibat serangan hama.

Meski berbagai upaya telah dilakukan, seperti penyemprotan pestisida dan pemasangan jaring, serangan burung pipit yang terjadi secara masif tetap tidak dapat dikendalikan. Kondisi tersebut menyebabkan kerusakan parah hingga berujung gagal panen total atau fuso.

Sementara itu, Kepala Desa Nanggalamekar, Hilman, menyebutkan bahwa pola tanam yang tidak serempak menjadi salah satu faktor utama penyebab berulangnya serangan hama. Menurutnya, siklus hama yang tidak terputus membuat serangan terus terjadi dari musim ke musim.

Ia berharap dinas terkait dapat segera memberikan solusi konkret serta bantuan bagi para petani agar kejadian serupa tidak terus terulang dan ketahanan pangan di wilayah tersebut tetap terjaga.
×
Berita Terbaru Update