![]() |
| Ilustrasi kurma dan Al-Qur'an. (Foto: Istimewa) |
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Ayat ini menjadi titik tolak dari seluruh tata laku ibadah Ramadan. Tidak hanya menentukan kewajiban ritual, tetapi menanamkan nilai spiritual yang jauh lebih luas.
1. Konteks Ayat dan Sejarah Kewajiban Puasa
Allah SWT memulai ayat ini dengan seruan يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا (“Wahai orang-orang yang beriman”), menunjukkan bahwa perintah puasa ditujukan kepada mereka yang sudah memiliki keimanan — yaitu komitmen spiritual terhadap Allah SWT. Kewajiban puasa diatur sebagai sebuah kutibah — suatu aturan yang tertulis dan harus dipatuhi oleh kaum Muslimin.
Perintah ini juga mengandung sebuah perbandingan: puasa diwajibkan “sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu.” Sebagian mufassir menjelaskan bahwa ini menunjukkan kesinambungan tradisi spiritual dari umat terdahulu bahwa menahan diri dari hal-hal duniawi sebagai bentuk ketaatan kepada Tuhan telah menjadi adat ilahiah sejak zaman para nabi terdahulu.
Lebih jauh, ulama klasik seperti Ibnu Katsir menerangkan bahwa penyebutan kewajiban bagi umat sebelumnya tidak dimaksudkan hanya untuk menguatkan hukum, tetapi juga sebagai bentuk motivasi psikologis. Bahwa meskipun puasa memiliki tuntutan tertentu, umat Islam tidak sendirian dalam pengalaman spiritual ini banyak komunitas sebelum Islam yang juga menjalankan kewajiban serupa.
2. Tafsir Ketakwaan (Taqwa) Tujuan Utama
Istilah لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (laʿallakum tattaqūn) secara harfiah bermakna “agar kalian mungkin bertakwa.” Kata taqwa sendiri berasal dari akar bahasa waqā yang berarti “menjaga diri” atau “melindungi,” khususnya dari siksa dan kemurkaan Allah. Dalam pemaknaan syar‘i, taqwa berarti menjauhi yang dilarang Allah dan menaati perintah-Nya dalam segala aspek kehidupan.
Para ulama klasik menjelaskan bahwa puasa menjadikan seseorang sadar secara intens akan keberadaan Allah dalam setiap helaan nafas dan keputusan hidupnya. Karena puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan diri dari perilaku yang dilarang seperti berbohong, gossip, iri hati, dan amarah. Ketika seorang mukmin berhasil mengendalikan diri dari hawa nafsu dan godaan duniawi, ia sedang melatih dirinya untuk lebih dekat kepada Allah itulah hakikat taqwa.
3. Relevansi Puasa di Era Kontemporer
Di era modern ini, tuntutan hidup sering kali memaksa manusia untuk berfokus pada produktivitas, materi, dan prestasi. Dalam kondisi seperti ini, puasa hadir sebagai sebuah spiritual reset momen tahunan untuk merefleksikan kembali batasan diri sendiri di hadapan Tuhan.
a. Pelatihan Kontrol Diri
Puasa melatih kontrol atas tubuh, emosi, dan pikiran. Tidak sekadar menahan lapar, tetapi juga mengendalikan lidah dari perkataan yang menyakiti, menjauhkan diri dari perilaku negatif, serta menyaring setiap niat aktivitas harian agar sesuai dengan syariat. Aktivitas digital di era kini, misalnya, sering mempertemukan kita dengan konten negatif. Semangat taqwa yang dilatih melalui puasa dapat membantu seseorang untuk selektif dalam mengonsumsi informasi dan berperilaku digital yang lebih sehat.
b. Spiritualitas di Tengah Kesibukan Dunia
Ramadan mengajarkan keseimbangan antara dunia dan akhirat. Ketika kehidupan sosial dan pekerjaan menuntut banyak waktu dan tenaga, puasa menjadi pengingat bahwa manusia bukan hanya makhluk jasmani, tetapi juga makhluk spiritual yang membutuhkan kedekatan dengan Sang Pencipta.
c. Pelatihan Empati dan Solidaritas Sosial
Puasa juga meningkatkan rasa empati kepada mereka yang kurang beruntung. Menahan lapar dan haus sehari penuh memberi pengalaman langsung bagaimana mereka yang hidup dalam kondisi kekurangan setiap hari. Ditambah dengan sedekah dan zakat yang intensif pada bulan ini, rasa solidaritas sosial menjadi lebih kuat. Hal ini sejalan dengan makna taqwa dalam konteks sosial: memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama manusia.
Ramadan: Jalan Menuju Taqwa
QS. Al-Baqarah: 183 tidak hanya menjelaskan kewajiban puasa, tapi juga tujuan spiritualnya: menjadi insan bertakwa. Kewajiban ritual itu sendiri adalah pintu awal; sedangkan keutamaan batin dan transformasi spiritual adalah cita-cita akhirnya.
Ramadan yang penuh berkah ini menjadi kesempatan emas untuk berbenah diri: memperkuat hubungan dengan Allah, melatih kendali diri, serta memperdalam rasa empati dan kepedulian sosial di tengah dinamika kehidupan modern.
Semoga ibadah puasa yang kita jalankan tahun ini memberi kita ketakwaan yang hakiki — bukan sekadar ritual kosong, tetapi perubahan nyata dalam cara hidup dan perilaku sehari-hari.
.jpg)